Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gambar Jari Tangan di Gua Purba Tak Lengkap, Bukti Praktik Amputasi?

Kompas.com - 04/12/2018, 18:33 WIB
Bhakti Satrio Wicaksono,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

"Amputasi jari adalah perilaku yang cukup umum di banyak wilayah di masa lalu," ujar Collard dikutip dari Science Alert, Senin (03/12/2018).

Contoh terdekat, para perempuan suku Dani di Papua menghilangkan bagian-bagian jari mereka untuk mengekspresikan kesedihan saat berkabung.

Meski bagian dari budaya setempat, saat ini praktik tersebut telah dilarang oleh pemerintah.

Baca juga: Cegah Amputasi, Diabetesi Perlu Perbaiki Pembuluh Darah

Pindah ke Afrika Selatan, perempuan suku Khoikhoi akan mengamputasi satu jari mereka sebelum menikah.

Jika mereka menjadi janda dan ingin menikah lagi, mereka akan memotong jari lain untuk melepaskan roh suami pertama mereka.

Banyak yang mempercayai bahwa lukisan tangan di gua purba adalah salah satu ritual keagamaan. Itu membuat tim menganggap pengorbanan adalah alasan terbaik untuk saat ini.

"Data yang tersedia tampaknya cukup sesuai dengan hipotesis bahwa beberapa orang Palaeolithic Atas terlibat dalam amputasi jari untuk tujuan pengorbanan agama," tutur Collard.

Tim ini juga berpendapat bahwa “ritual-ritual dysphoric” mungkin telah menyebabkan individu di dalam kelompok menjadi sangat kooperatif dan sangat sensitif terhadap orang di luar kelompoknya.

Dasar dari pemikiran ini adalah karena orang-orang cenderung memiliki ikatan yang kuat ketika mereka berada pada penderitaan yang sama, dalam kasus ini memotong jari. Kegelapan gua-gua beserta lukisan-lukisan menyeramkan ditambahkan ke dysphoria ini.

Meski demikian, para peneliti merasa bahwa penjelasan mereka masih sebatas hipotesis belaka dan masih dapat dinyatakan salah.

Namun, akan tetap menarik untuk berpikir bahwa bagi banyak budaya di seluruh dunia, mengamputasi jari-jari adalah bagian yang penting dari kehidupan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com