Gambar Jari Tangan di Gua Purba Tak Lengkap, Bukti Praktik Amputasi? - Kompas.com

Gambar Jari Tangan di Gua Purba Tak Lengkap, Bukti Praktik Amputasi?

Kompas.com - 04/12/2018, 18:33 WIB
Lukisan TanganJean Clottes/McCauley Journal of Paleolithic Archaeology Lukisan Tangan

KOMPAS.com – Karya seni pada gua purba telah menunjukkan banyak hal kepada kita. Mulai dari kemampuan artistik manusia Neandertal sampai bagaimana manusia purba menguasai astronomi.

Tapi sebuah penelitian baru tentang lukisan gua purba menyajikan cerita yang lebih mengerikan, yaitu lukisan jari yang dimutilasi.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Paleolithic Archaeology, melihat mengapa banyak lukisan tangan dari era paleolitikum akhir tampak tidak utuh pada jarinya.

Berbagai lukisan menggambarkan tangan yang kehilangan satu atau dua jari. Sebagai contoh, di Grotte de Gargas, Perancis berisikan 231 gambar tangan, dan 114 di antaranya tidak memiliki lima jari.

Sementara itu, Gua Cosquer, yang juga di Perancis, menggambarkan 49 tangan, 28 di,antara gambar tersebut jarinya tidak lengkap.

Alasan dibalik tidak lengkapnya jari pada lukisan tangan di gua purba masih menjadi misteri.

Mungkinkah mereka sengaja melipat jari atau kondisi tersebut disebabkan oleh radang dingin? Ada juga kemungkian bahwa hal tersebut merupakan bahasa isyarat?

Baca juga: Pembalut Modern Sembuhkan Luka Tanpa Harus Amputasi

Masalahnya, lukisan tangan di Grotte de Gargas tampaknya dibuat dengan tangan yang ditekan ke dinding yang artinya menunjukkan jari-jari tidak dilipat begitu saja.

Begitu pula dengan asumsi akibat radang dingin. Jika radang dingin bertanggungjawab terhadap tidak lengkapnya jari pada lukisan tangan itu, mengapa tidak tersebar luas di berbagai daerah?

Untuk menjawab hal ini, tim peneliti melacak berbagai dokumen etnografi, jurnal perjalanan, dan arsip ekspedisi dari berbagai dunia.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa 121 kelompok di seluruh benua telah melakukan praktik amputasi jari di masa lalu.

"Saya sangat terkejut," ujar Mark Collard dari Simon Fraser University di Canada kepada New Scientist, dilansir dari IFL Science pada Senin (03/11/2018).

"Sepertinya ini adalah praktik melemahkan diri sehingga saya tidak dapat membayangkan untuk melakukannya sendiri. Saya masih tidak bisa (membayangkannya). Namun, kami terus mencari kelompok demi kelompok yang melakukannya," imbuh Collard .

Menurut para peneliti, ada beberapa alasan mengapa mereka memotong jari secara sengaja.

Alasan tersebut meliputi bentuk permohonan kepada dewa-dewa, sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam, upaya penyembuhan penyakit, dan bentuk komunikasi identitas kelompok, atau status perkawinan.

"Amputasi jari adalah perilaku yang cukup umum di banyak wilayah di masa lalu," ujar Collard dikutip dari Science Alert, Senin (03/12/2018).

Contoh terdekat, para perempuan suku Dani di Papua menghilangkan bagian-bagian jari mereka untuk mengekspresikan kesedihan saat berkabung.

Meski bagian dari budaya setempat, saat ini praktik tersebut telah dilarang oleh pemerintah.

Baca juga: Cegah Amputasi, Diabetesi Perlu Perbaiki Pembuluh Darah

Pindah ke Afrika Selatan, perempuan suku Khoikhoi akan mengamputasi satu jari mereka sebelum menikah.

Jika mereka menjadi janda dan ingin menikah lagi, mereka akan memotong jari lain untuk melepaskan roh suami pertama mereka.

Banyak yang mempercayai bahwa lukisan tangan di gua purba adalah salah satu ritual keagamaan. Itu membuat tim menganggap pengorbanan adalah alasan terbaik untuk saat ini.

"Data yang tersedia tampaknya cukup sesuai dengan hipotesis bahwa beberapa orang Palaeolithic Atas terlibat dalam amputasi jari untuk tujuan pengorbanan agama," tutur Collard.

Tim ini juga berpendapat bahwa “ritual-ritual dysphoric” mungkin telah menyebabkan individu di dalam kelompok menjadi sangat kooperatif dan sangat sensitif terhadap orang di luar kelompoknya.

Dasar dari pemikiran ini adalah karena orang-orang cenderung memiliki ikatan yang kuat ketika mereka berada pada penderitaan yang sama, dalam kasus ini memotong jari. Kegelapan gua-gua beserta lukisan-lukisan menyeramkan ditambahkan ke dysphoria ini.

Meski demikian, para peneliti merasa bahwa penjelasan mereka masih sebatas hipotesis belaka dan masih dapat dinyatakan salah.

Namun, akan tetap menarik untuk berpikir bahwa bagi banyak budaya di seluruh dunia, mengamputasi jari-jari adalah bagian yang penting dari kehidupan.



Close Ads X