Bukan Hanya Manusia, Orangutan Sumatera Juga Bisa "Bicara" Masa Lalu

Kompas.com - 16/11/2018, 18:33 WIB
Ilustrasi orangutan Ilustrasi orangutan

KOMPAS.com — Setiap makhluk hidup punya cara berkomunikasi masing-masing. Kita bisa melihat bahwa gonggongan anjing atau auman singa menjadi buktinya.

Namun, jika berbicara tentang komunikasi dalam konteks waktu yang telah berlalu, apakah itu hanya fitur eksklusif manusia?

Sebuah penelitian terbaru ternyata membuktikan bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Para peneliti menemukan bahwa orangutan juga bisa berkomunikasi untuk "membicarakan" masa lalu.

Meski begitu, orangutan merupakan satu-satunya hewan dan primata nonmanusia yang punya fitur ini.

Kesimpulan ini diperoleh para peneliti setelah mengamati bahwa induk orangutan biasanya menunggu rata-rata selama 7 menit setelah pemangsa potensial tidak lagi terlihat untuk memperingatkan kelompoknya.

Peringatan dari induk orangutan tersebut digambarkan para ahli sebagai suara yang terdengar seperti orang sedang berciuman.

Baca juga: Relawan Temukan Dua Bayi Orangutan Tapanuli, Apa Artinya?

"Hasilnya cukup mengejutkan," ungkap Carel van Schaik, ahli primata dari University of Zurich yang tidak terlibat dalam studi ini dikutip dari Sciencemag, Rabu (14/11/2018).

"Kemampuan berkomunikasi tentang masa lalu dan masa depan adalah salah satu yang membuat bahasa sangat efektif," imbuhnya.

Van Schaik menyebut temuan ini bisa memberikan petunjuk tentang evolusi bahasa itu sendiri.

Temuan ini didapatkan oleh Adriano Reis e Lameira, mahasiswa pascadoktoral di University of St. Andrews, Inggris. Hasil tersebut diperoleh ketika dia sedang mengamati peringatan bahaya yang dibuat oleh orangutan di hutan Ketambe, Sumatera.

Dia dan koleganya membuat percobaan sederhana untuk menguji peringatan bahaya yang dibuat oleh orangutan di wilayah tersebut. Mereka berkamuflase menutupi diri dengan kain dengan motif loreng seperti harimau, bertotol seperti macan, atau polos.

Mereka kemudian berjalan merangkak tepat di bawah salah satu induk orang utan yang duduk di pohon dengan ketinggian 5-20 meter di atas tanah.

Halaman:



Close Ads X