Kompas.com - 05/11/2018, 20:35 WIB
Ningsih bersama putrinya Shierine Wibawa/Kompas.comNingsih bersama putrinya

KOMPAS.com – Pemulung sampah merupakan salah satu bagian terpenting dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Berkat mereka, 62 persen plastik PET di Indonesia berhasil dikumpulkan untuk didaur ulang. Presentase tersebut bahkan lebih tinggi dari Eropa.

Sayangnya, keberadaan mereka sering kali tidak diapresiasi, bahkan ditolak oleh masyarakat.

Pada hari Rabu (31/10/2018), Kompas.com berkesempatan untuk menemui salah satu keluarga pemulung sampah ketika mengikuti Circularity Tour dari Danone Aqua.

Di Tohpati, Denpasar; Ningsih yang merupakan pengumpul sampah skala kecil tinggal bersama suaminya yang berprofesi sebagai pemulung sampah dan putrinya yang kini berusia sembilan bulan.

Baca juga: Begini Perjalanan Botol Plastik dari Tempat Sampah Anda ke Botol Baru

Sebagai seorang pengumpul sampah, dia bertugas memilah sampah yang dikumpulkannya di rumah. Namun, karena suaminya hanya dapat mengumpulkan 10-20 kilogram sampah dalam sehari, dia pun menerima sampah dari pemulung lain.

Sekarung sampah yang belum disortir dan berbobot 15 kilogram dihargai oleh Ningsih Rp 25.000. Setelah dipilahnya, sekarung botol PET dengan bobot yang sama bisa dihargai Rp 75.000 oleh pengumpul sampah yang lebih besar.

Namun, mengumpulkan 10-20 kilogram sampah itu juga bukan hal yang mudah. Dituturkan oleh Ningsih, suaminya mulai bekerja pada pukul 9.00 sampai 16.00.  Dia berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lainnya sambil menarik gerobak demi mengumpulkan berbagai macam sampah, dari botol plastik, ember bekas, kardus, hingga besi.

“Yang mencari sampah ya suami saya. Kadang enggak diterima, dimarahi orang, takut juga kalau diserempet motor,” ujarnya.

Baca juga: Pertama di Indonesia, Botol AMDK dari 100 Persen Plastik Daur Ulang

Namun, masalah terbesar yang dihadapi oleh para pemulung adalah kurangnya fasilitas, termasuk fasilitas kesehatan.

Kebanyakan pemulung di Bali berasal dari Jawa. Ningsih dan keluarganya sendiri berasal dari Bondowoso. Tanpa KTP atau Kartu Keluarga, Ningsih dan para pemulung lainnya di Bali tidak bisa mengakses BPJS.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.