Kompas.com - 03/11/2018, 21:32 WIB
Bayi Badak Sumatera Delilah bersama induk Badak Sumatera Ratu menyantap buah-buahan di Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Rabu (27/6/2016). ASEAN Center for Biodiversity resmi menetapkan Taman Nasional Way Kambas sebagai salah satu taman warisan ASEAN (Asean Heritage Park/AHP) karena kekayaan keanekaragaman hayati di dalamnya. KOMPAS/ANGGER PUTRANTOBayi Badak Sumatera Delilah bersama induk Badak Sumatera Ratu menyantap buah-buahan di Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Rabu (27/6/2016). ASEAN Center for Biodiversity resmi menetapkan Taman Nasional Way Kambas sebagai salah satu taman warisan ASEAN (Asean Heritage Park/AHP) karena kekayaan keanekaragaman hayati di dalamnya.

KOMPAS.com - Dalam beberapa puluh tahun terakhir terjadi penurunan besar-besaran populasi berbagai mahluk di alam ini akibat 'ledakan konsumsi manusia', kata kelompok konservasi WWF.

Lewat sebuah laporannya, LSM tersebut menyatakan, dunia kehilangan spesies bertulang belakang - mamalia, ikan, amfibi dan reptil - secara rata-rata sebesar 60 persen dari tahun 1970 sampai 2014.

"Bumi kehilangan keanekaragaman pada tingkat yang hanya pernah terlihat saat terjadinya kepunahan massal," demikian tertulis dalam laporan WWF, Living Planet Report.

Mereka mendesak para pembuat kebijakan untuk merumuskan lagi sasaran bagi pembangunan berkelanjutan.

Living Planet Report, yang diterbitkan setiap dua tahun, bertujuan untuk mengkaji keadaan alam di dunia.

Edisi tahun 2018 menyatakan hanya seperempat daratan bumi yang bebas dari pengaruh kegiatan manusia, sementara proporsinya akan menurun sampai sepersepuluhnya di tahun 2050.

Perubahan ini disebabkan terus meningkatnya produksi pangan dan peningkatan permintaan akan energi, tanah dan air.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meskipun berkurangnya hutan diperlambat dengan penanaman kembali di beberapa tempat dalam puluhan tahun terakhir, "kehilangannya lebih cepat di hutan tropis yang berisi tingkat keanekaragaman paling tinggi di Bumi", demikian dicatat laporan tersebut.

Amerika Selatan dan Tengah paling menderita penurunan paling dramatis populasi vertebrata - kehilangan sebesar 89 persen populasi mahluk bertulang belakang dibandingkan tahun 1970.

Baca juga: Ratusan Bangkai Rusa di Norwegia Picu Keanekaragaman Hayati, Kok Bisa?

Spesies air tawar yang terutama paling berisiko, tulis laporan itu. Polusi plastik terlihat di bagian paling dalam laut dunia, termasuk di Mariana Trench, Samudra Pasifik.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.