Indonesia, Kenapa Bikin Tempe Saja Kedelainya Harus Impor?

Kompas.com - 25/10/2018, 20:06 WIB
Tempe makanan IndonesiaAndiArman Tempe makanan Indonesia

KOMPAS.com – Tempe adalah salah satu lauk yang sering berada dalam piring makanan kita. Pasalnya, tempe bukanlah makanan yang mahal. Ia juga terbuat dari kedelai yang kaya akan protein.

Setidaknya, kedelai pada tempe mengandung 40 persen protein, 22 persen lemak, 25 persen karbohidrat, 8 persen dietary fiber, dan 5 persen mineral.

Sayangnya, seperti dilansir dari Kontan, Kamis (30/08/2018), kita sangat bergantung pada kedelai impor untuk memproduksi tempe. Impor kedelai Amerika Serikat ke Indonesia sebagai bahan baku tempe pada bulan Agustus 2018 bahkan melonjak menjadi 405.200 ton dari 210.700 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kedelai memang sekarang jarang sekali. Jangankan dibuat minyak kedelai, dibuat tempe dan kecap saja, barangnya susah. Jadi, kalau ada pun impor. Ini masalah juga ketiadaan bahan baku,” jelas Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS, Ketua Forum Tempe Indonesia, saat ditemui pada Rabu (24/10/2018) di Jakarta.

Baca juga: Di Balik Riset Tempe Siswa Indonesia yang Dibawa NASA ke Antariksa

Bukan tanpa alasan, Made menjelaskan bahwa faktor geografis mempengaruhi mengapa kedelai sulit dikembangbiakkan di Indonesia.

“Kedelai itu tanaman sub-tropis yang perlu durasi siang yang lebih lama untuk memaksimalkan fotosintesis. Kalau di Amerika kan kalau musim panas, siangnya lebih lama dari malamnya. Makanya di sana tumbuh maksimal. Itu saja problemnya,” jelas Made.

Dibandingkan Indonesia yang hanya 1,75 ton per hektar, produksi kedelai di Amerika dapat mencapai 4.5 ton per hektar karena faktor geografis.

Dari segi ekonomi pun, hanya sedikit petani Indonesia yang mengembangbiakkan kedelai. “Ya petani kan rasional. Dari pada menanam kedelai ya lebih baik menanam beras dan jagung. Kecuali ada intervensi khusus dari pemerintah. Nah, itu bisa lain ceritanya,” ujar Made.

Baca juga: Kedelai Bagus, tetapi Manfaatnya bagi Jantung Dibantah

Mengingat pentingnya kedelai untuk masyarakat Indonesia, Made menyayangkan jika Indonesia masih kesulitan memperoleh kedelai secara swasembada.

Perlu diingat, kedelai adalah king of bean yang mana kandungan gizinya lebih banyak ketimbang kacang-kacangan lain. Di dalam kedelai, ada protein sebanyak 47,5 persen, sedangkan pada jagung hanya terkandung 8,3 persen protein dan pada beras hanya 7,9 persen.

Made menegaskan bahwa kandungan gizi pada kedelai lokal tidak berbeda dari kedelai yang diproduksi di Amerika Serikat.

“Secara kualitas tidak berbeda, yang berbeda itu ketersediaannya. Kalau kedelai lokal itu cuma 30 persen dari kebutuhan nasional. Makanya swasembada tempe mungkin masih belum ya,” pungkas Made.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X