Kompas.com - 24/10/2018, 12:44 WIB

KOMPAS.com — Seabad yang lalu, para ahli memperkirakan Bumi memiliki inti dalam yang lengket yang terbuat dari logam cair. Namun, semua pandangan itu berubah pada tahun 1930-an.

Inge Lehmann, ahli seismologi Denmark, menemukan tanda-tanda gelombang kompresi, gelombang yang mendorong bolak-balik melalui tubuh planet, pada bacaan seismik gempa besar yang terjadi di Selandia Baru.

Menurut dia, pola demikian menunjukkan kemungkinan besar bahwa gelombang tersebut terpantul dari pusat Bumi yang padat.

Baca juga: Bumi Sekarat, Stephen Hawking Ungkap Strategi Invasi Dunia Alien

Lehmann juga mengatakan, inti dalam Bumi ini juga kokoh. Selain itu, ukurannya sekitar tiga perempat ukuran Bulan kita, terbuat dari besi dan nikel, serta memiliki suhu sama panasnya dengan permukaan Matahari. Bahkan, mungkin ada kerumitan pada strukturnya.

Kini, pandangan tersebut telah berhasil dibuktikan.

Untuk kali pertama, ahli geologi mengonfirmasikan bahwa inti Bumi memang padat, meski tidak sekokoh seperti yang diungkapkan sebelumnya.

Studi yang dilakukan Australian National University (ANU) ini menganalisis gelombang seismik beramplitudo rendah bernama "J-phase", sejenis gelombang yang dapat melewati inti dalam planet.

Berkat metode baru tersebut, peneliti dapat  mendeteksi gelombang seismik yang pelan dan akhirnya mengungkapkan detail lapisan terdalam planet ini.

"Kami menemukan inti dalam memang padat, tetapi kami juga menemukan bahwa inti dalam lebih lembut dari yang diperkirakan sebelumnya," kata Professor Hrvoje, peneliti yang terlibat dalam studi ini.

"Inti dalam Bumi memiliki beberapa sifat elastis yang sama dengan emas dan platinum," tambahnya.

Baca juga: Apakah Bumi Terlahir Basah atau Kering?

Memiliki petunjuk mengenai planet ini bukanlah tugas yang mudah. Kita hampir tidak bisa menggali lebih dari 12 kilometer ke dalam kerak, apalagi mengungkapkan apa yang ada ribuan kilometer di bawah kaki kita.

Semua informasi ini berguna untuk membangun pemahaman yang kuat tentang bagaimana planet terbentuk ataupun bagaimana medan magnet bekerja.

"Pemahaman inti dalam Bumi memiliki konsekuensi langsung untuk generasi dan pemeliharaan di bidang geomagnetik. Sebab, tanpa medan geomagnetik, tidak akan ada kehidupan di permukaan Bumi," papar Tkalcic.

Penelitian dipublikasikan di jurnal Science.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.