Suhu Jawa 34-37,5 Derajat Celcius, Bukan Berarti Rasanya Sepanas Itu - Kompas.com

Suhu Jawa 34-37,5 Derajat Celcius, Bukan Berarti Rasanya Sepanas Itu

Kompas.com - 12/10/2018, 19:07 WIB
Ilustrasi.Shutterstock Ilustrasi.

KOMPAS.com – Jika berbicara mengenai cuaca di Jakarta dan Jawa akhir-akhir ini, hampir semua warga media sosial meyakini bahwa Oktober ini panas sekali.

Padahal, seperti yang dikatakan dari pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, (BMKG) Hary Djatmiko, kepada Kompas.com via sambungan telepon pada Selasa (9/10/2018), suhu kota-kota di Jawa saat ini berkisar antara 34-37,5 derajat celcius.

Kisaran suhu itu, bila dilansir dari penjelasan singkat bagian Humas BMKG pada Selasa (9/10/2018), masih dalam kisaran normal suhu maksimum yang pernah terjadi berdasarkan data klimatologis 30 tahun.

Akan tetapi, Hary pun mengakui bahwa yang disampaikan oleh BMKG adalah suhu standar dan real berdasarkan pengukuran alat tanpa dipengaruhi oleh faktor sekitar.

Baca juga: Merasa Jakarta dan se-Jawa Panas? Jangan Heran, Ini yang Terjadi

“(Sedangkan) feels like (terasa seperti) sudah dipengaruhi oleh kondisi sekitar, seperti aktivitas kendaraan bermotor dan lain-lain sehingga pengukurannya bisa lebih tinggi,” ujarnya.

Dengan kata lain, walaupun hasil pengukuran BMKG menunjukkan angka 34-37,5 derajat celcius, suhu yang Anda rasakan bisa lebih tinggi atau lebih rendah.

Pakar meteorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Drs. Zadrach Ledoufij Dupe M.Si., yang dihubungi oleh Kompas.com via sambungan telepon pada hari Jumat (12/10/2018) berkata bahwa hal ini berkaitan dengan indeks kenyamanan yang merupakan gabungan dari beberapa faktor meteorologi, seperti suhu dan kelembapan.

“Kalau temperatur tinggi dan kelembapan tinggi, kita merasa gerah atau panas, sangat tidak nyaman. Tapi kalau temperatur tinggi dan kelembapan rendah, kita merasa biasa-biasa saja. Tubuh kita bisa beradaptasi dengan baik,” ujarnya.

Pada saat ini, kondisi cuaca Jawa adalah bersuhu tinggi, tetapi kelembapannya rendah. Akibatnya, banyak orang merasa haus, mudah berkeringat, dan rentan terbakar matahari.

Baca juga: Waspada, 4 Tahun Mendatang Suhu Bumi akan Lebih Panas

Kelembapan rendah

Catatan BMKG menunjukkan bahwa kelembapan udara kurang dari 60 persen pada ketinggian 3-5 km dari permukaan.

Kelembapan rendah ini mungkin membingungkan banyak orang. Sebab, pelajaran sekolah menuturkan bahwa Oktober sudah memasuki musim hujan.

Nyatanya, masyarakat Jawa belum merasakan hujan hingga ketika artikel ini ditulis pada tanggal 12 Oktober 2018. Bahkan, prakiraan BMKG menunjukkan bahwa hujan akan mundur dari jadwal sebanyak 10 hingga 30 hari.

Baik Zadrach maupun Hary berkata bahwa musim kemarau yang lebih panjang ini disebabkan oleh fenomena El Nino, di mana massa udara dingin dan kering mengalir dari Australia menuju Indonesia bagian selatan khatulistiwa, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Menariknya, Zadrach juga berkata bahwa dampak El Nino ke Amerika justru kebalikan dari Indonesia, yakni hujan, banjir, dan badai.

Namun, perlu Anda ketahui bahwa El Nino yang kita alami tahun ini bukanlah sesuatu yang istimewa, seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998 ketika fenomena tersebut menyebabkan kekeringan, kebanjiran, dan berbagai bencana lainnya secara global.

“Dari segi kekuatannya, El Nino (tahun) ini El Nino lemah,” katanya.



Close Ads X