Kompas.com - 15/08/2018, 19:10 WIB
Ilustrasi pemanasan global rottadanaIlustrasi pemanasan global

KOMPAS.com – Saat ini kita memang sedang menghadapi fenomena perubahan iklim yang cukup mengkhawatirkan. Jika Anda masih merasa baik-baik saja pada saat ini, setidaknya Anda perlu berhati-hati dengan perubahan suhu yang akan terjadi dalam empat tahun ke depan.

Menurut penelitian yang diterbitkan di Nature Communications, selama empat tahun ke depan—atau bahkan lebih— kita akan melihat fenomena suhu tinggi yang tidak wajar. Bahkan fenomena ini akan meningkatkan kemungkinan terjadinya badai tropis.

Dilansir dari Independent UK, Rabu, (15/08/2018), Florian Sevellec dan tim peneliti dari National Center of Scientific Research (CNRS) mengatakan, perubahan iklim antropogenik jelas merupakan faktor yang berkontribusi terhadap tren pemanasan global, namun ternyata ini bukanlah satu-satunya.

Bahkan rumah kaca yang sebelumnya sering kali diisukan sebagai penyebab utama dari pemanasan global ternyata tidak memiliki kaitan dengan perubahan suhu yang akan datang ini.

Baca juga: Hewan Pertama di Bumi Ikut Bertanggung Jawab pada Pemanasan Global

Diketahui, isu ini sudah meluntur sejak awal abad ke-21 yang dikenal sebagai “hiatus” pemanasan global.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada periode tahun 1998 hingga 2013, pemanasan global mengalami “hiatus”. Selama masa ini, perubahan suhu permukaan global melambat karena laut menyerap panas yang berlebih kemudian mendistribusikan energi ke dalam Bumi.

Sevellec dan tim peneliti menggunakan metode baru yang dinamakan PROCAST (PRObabilistic foreCAST), untuk memprediksi suhu permukaan global dengan melacak anomali cuaca yang menyebabkan perubahan iklim.

Melalui metode baru yang diterapkan, terlihat bentuk-bentuk baru penyebab perubahan iklim muncul lebih banyak ketimbang yang disebabkan oleh perilaku manusia.

Baca juga: Pro Kontra Rekayasa Iklim untuk Selamatkan Bumi dari Pemanasan Global

Metode ini menerapkan penghitungan statistik untuk mensimulasikan iklim abad ke-20 dan 21 dengan menggunakan beberapa referensi database untuk menciptakan kondisi iklim saat ini dan membuat prediksi kemungkinan yang terjadi masa depan.

Sevellec memprediksikan, suhu udara mungkin akan sangat tinggi pada 2018 – 2022. Sehubungan dengan turut meningkatnya suhu permukaan laut, ia berpendapat fenomena ini perlu mendapat perhatian khusus, karena tingginya panas—pada kondisi tertentu—dapat menyebabkan aktivitas badai tropis.

Sevellec berujar, saat ini PROCAST hanya mampu menghasilkan rata-rata keseluruhan, tetapi kedepannya ia ingin mengembangkan cara ini untuk membuat prediksi regional, memperkirakan curah hujan, dan tren kekeringan.

"Ini untuk sementara akan memperkuat tren pemanasan global jangka panjang. Periode panas berikutnya berkaitan dengan kemungkinan peningkatan suhu yang intens dan ekstrem," jelas Sevellec.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X