"Traveller" Ceritakan Keintiman Masyarakat Toraja dengan Kematian - Kompas.com

"Traveller" Ceritakan Keintiman Masyarakat Toraja dengan Kematian

Kompas.com - 12/10/2018, 08:05 WIB
Lemo, salah satu kuburan kuno di Tana Toraja.DOK. indonesia-tourism.com Lemo, salah satu kuburan kuno di Tana Toraja.

KOMPAS.com – Masyarakat kita sering menganggap bahwa kematian adalah suatu hal yang mengerikan. Bahkan, kita cenderung sangat menghindari hal-hal yang berbau kematian.

Hal ini berbeda dengan apa yang dipandang oleh Agustinus Wibowo, travel writer yang menghabiskan enam puluh harinya hidup bersama masyarakat Toraja.

Bukan berarti masyarakat Toraja justru sangat ingin mendekati kematian. Namun menurut Agus, masyarakat Toraja sangat realistis dan bisa menerima kematian dari anggota keluarganya.

Kematian itu buat orang Toraja sangat istimewa, yang paling signifikan, mereka lebih tenang menghadapi kematian yang tidak terbayang orang kita,” katanya saat ditemui dalam Wallace Week 2018, Kamis (11/10/2018) di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Baca juga: Suku Bajo, Manusia Pertama yang Beradaptasi Genetik untuk Menyelam

Dia dapat berkata demikian karena ketika tiba di sebuah keluarga di Toraja, salah satu anggota dari keluarga tersebut ada yang meninggal dan menurut penuturan keluarga tersebut, hal ini bukan akhir dari segalanya.

Menurut Agus, melakukan sebuah upacara adat pemakaman bagi anggota keluarga yang meninggal membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini membuat banyak jenazah dari anggota keluarga masyarakat Toraja diawetkan dan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah sambil menabung untuk melaksanakan upacara adat pemakaman.

Menariknya, ini justru menambahkan bukti bahwa masyarakat Toraja tidak canggung terhadap kematian, sekalipun fisik yang mati tersebut ada di sekitar mereka.

“Lalu jenazah yang belum dikubur dianggap sebagai orang sakit atau disebut to makula. Jadi jenazah disimpan di rumah, diperlakukan seperti layaknya masih hidup, sampai keluarga mampu mengumpulkan uang untuk melakukan ritual pemakaman yang layak," jelas Agus yang tinggal di Toraja dua tahun silam.

Baca juga: Keberagaman Gender di Indonesia

"Ini interaksi yang sangat dekat dengan kematian. Hampir di semua keluarga ada yang menyimpan jenazah,” imbuhnya.

Mahalnya biaya pemakaman dalam masyarakat Toraja juga tidak selamanya buruk menurut Agus. Pasalnya, ada nilai positif dari mahalnya biaya upacara pemakaman keluarga adat Toraja terkait dengan pemersatu keluarga.

“Ritual pemakaman Toraja terlalu mahal untuk ditanggung satu keluarga. Pemakaman Toraja akan dilakukan oleh ribuan keluarga. Justru ini yang membuat ikatan mereka menjadi kuat sehingga mereka mengenal banyak anggota keluarga lain. Nilai-nilai ini terlalu kuat untuk digantikan dengan budaya lain,” jelasnya.

Keunikan budaya seperti ini yang seharusnya bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat banyak untuk dapat menghormati antar budaya. Dalam kesempatan yang sama juga, Agus berpesan untuk kita memiliki pandangan yang sangat luas dalam menilai kebudayaan Indonesia dan jangan memaksaan homogenitas budaya.

“Dari sisi saya, intinya kalau kita melihat budaya yang berbeda, jangan hakimi mereka. Coba pahami maknanya. Nilai-nilai budaya itu universal, pasti di setiap budaya ada filosofi yang sangat indah untuk dipahami,” pungkasnya.



Close Ads X