Kompas.com - 11/10/2018, 10:06 WIB
Petugas menyusuri Kali Anak Ciliwung di Jalan Gunung Sahari guna memburu buaya yang berada di sana, Selasa (9/10/2018). KOMPAS.com/Ardito Ramadhan DPetugas menyusuri Kali Anak Ciliwung di Jalan Gunung Sahari guna memburu buaya yang berada di sana, Selasa (9/10/2018).

KOMPAS.com - Adanya "sarang" buaya di kolong jembatan yang menghubungkan Jalan Gunung Sahari dan Mal Mangga Dua Square membuat peneliti bingung.

Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta menyebut sarang itu dihuni tiga ekor buaya yang terdiri dari dua jenis, buaya muara dan buaya senyulong.

Bagi ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) buaya yang hidup di Jawa hanyalah buaya muara (Crocodylus porosus) yang dapat hidup di air tawar maupun laut.

"Kalau di Jawa hanya ada satu jenis, buaya muara," kata Peneliti Herpetologi LIPI Helen Kurniati dihubungi Kompas.com, Rabu (10/10/2018).

Buaya muara yang punya tubuh paling besar di antara buaya yang lain itu juga tidak hanya tinggal di Jawa. Wilayah persebarannya sangat luas dibanding yang lain, yakni seluruh kawasan Indonesia dan luar Indonesia baik air tawar ataupun air laut.

Selain tubuh yang lebih panjang dan besar, buaya muara juga punya ciri khas lain yakni tidak memiliki sisik menonjol di atas kepalanya. Di bagian atas kepala hingga leher, sisiknya kecil-kecil.

Nah, adanya kabar buaya senyulong (Tomistoma schlegelii) ditemukan di Kali Ana Ciliwung membuat para herpetolog (ahli reptil) heran. Pasalnya, buaya dengan moncong runcingnya itu tidak memiliki habitat di Jawa.

Baca juga: Memburu Buaya di Kali Anak Ciliwung...

"Habitatnya (buaya senyulong) itu ada di rawa gambut hitam, rawa gambut yang airnya asam. (Buaya senyulong) hidup di daerah Danau Sentarum, Kalimantan (Kalbar), di beberapa wilayah Jambi juga ada. Tapi dia enggak ada di Jawa, apalagi di Ciliwung," kata herpetolog Amir Hamidy dari LIPI dihubungi Kompas.com, Kamis (11/10/2018).

Amir curiga, jika buaya senyulong benar ada di kali Ciliwung kemungkinan besar buaya itu dilepas orang.

"Saya curiga mereka itu ilegal. Itu kan hewan dilindungi masuk ke Jakarta, begitu tahu itu dilindungi, takut, dilepaslah ke sungai. coba dicek dulu. Tapi kalau sampai di Ciliwung, kemungkinan besar dilepasin orang," katanya.

Untuk panjang, buaya senyulong lebih kecil dari buaya muara. Buaya senyulong dewasa panjangnya bisa mencapai 4-5 meter, sementara buaya muara panjangnya bisa mencapai 6 meter.

"Untuk sampai ke ukuran ini butuh waktu lama, 30 sampai 40 tahun," tutupnya.

Sejumlah petugas UPK Badan Air Kecamatan Pademangan sebelumnya menemukan buaya di Kali Anak Ciliwung saat sedang menyisir kali untuk membersihkan sampah.

Upaya pencarian buaya masih dilakukan sejak Selasa pagi dengan melibatkan petugas BKSDA dan polisi hutan.

Baca juga: Konflik Buaya-Manusia di Sorong, Ahli Sebut Peringatan Keselamatan Penangkaran

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Kita
Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Oh Begitu
Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Oh Begitu
Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Oh Begitu
Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Fenomena
Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Oh Begitu
Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Oh Begitu
Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Oh Begitu
Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Fenomena
Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.