Kompas.com - 05/10/2018, 12:06 WIB
Pekerja sedang mengangkut buoy, alat deteksi dini tsunami yang didonasikan oleh US National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA). AFP PHOTO/Bay ISMOYO / AFP PHOTO / BAY ISMOYO BAY ISMOYOPekerja sedang mengangkut buoy, alat deteksi dini tsunami yang didonasikan oleh US National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA). AFP PHOTO/Bay ISMOYO / AFP PHOTO / BAY ISMOYO

KOMPAS.com — Baru saja Lombok dan Palu diterpa bencana yang merenggut banyak jiwa. Pada kasus tsunami seperti ini, keadaan menjadi miris ketika buoy yang digunakan untuk mendeteksi dini tsunami hilang akibat vandalisme oknum.

Dalam jumpa pers yang dilaksanakan pada Kamis (04/10/2018) di Jakarta, BPPT menawarkan sebuah terobosan yang mungkin bisa menggantikan posisi buoy. Terobosan tersebut dinamai Cable Based Tsunameter atau CBT.

"CBT itu sebenarnya sudah banyak di-deploy di Jepang. Di sana sangat bagus," ujar Deputi BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT  Hammam Riza.

"Kita ingin CBT ini menjadi program nasional karena kita memiliki sistem komunikasi kabel laut yang merupakan upaya kita untuk membangun broadband network lewat Palapa Ring," ujarnya.

Baca juga: BPPT Nyatakan Siap Bikin Alat Deteksi Tsunami Buoy Lagi

Sistem ini nantinya akan memasang kabel bawah yang diberikan sensor. Kemudian, sensor tersebut akan mengukur perubahan tekanan dalam laut yang ekstrem yang dapat mengindikasikan tsunami. Sensor lalu akan mengirimkan data melalui satelit kepada instansi terkait.

Namun, diakui Hammam, proses pembuatan CBT baru menghabiskan biaya yang lebih mahal dari pembuatan buoy.

"Kalau dibandingkan, kalau pembuatan buoy itu bisa menghabiskan miliiaran, CBT itu triliunan. Tapi perawatannya lebih murah dari buoy. Tapi (biaya) ini kalau buat baru ya," ujar Hammam.

Ia mengatakan, cara ini bisa disiasati dengan cara sistem komunikasi kabel laut yang merupakan broadband network lewat Palapa Ring. BPPT hanya perlu untuk memasang sensor tersebut di kabel dasar laut yang sudah ada di Indonesia.

Baca juga: 4 Fakta tentang Alat Deteksi Tsunami Buoy di Indonesia

Namun, temuan ini bukan tanpa kekurangan. Permasalahannya adalah belum seluruh wilayah Indonesia memiliki jaringan bawah laut Palapa Ring. Untuk itu, Hammam mengatakan, buoy masih diperlukan untuk beberapa tempat.

"Untuk CBT memang belum tentu bisa meng-cover  semuanya karena Palapa Ring juga belum di seluruh Indonesia. Tapi jangan lupa bila buoy juga masih diperlukan. Terlepas dari buoy itu hilang atau bagaimana, tetap memang perlu," ujar Hammam.

Hammam menambahkan, CBT ini telah dikembangkan di beberapa negara dan dimanfaatkan antara lain oleh Kanada, Jepang, Oman, dan Amerika Serikat.

Dalam forum komunikasi antarperekayasa CBT di seluruh dunia, disepakati juga bahwa CBT menjadi pilihan alternatif terhadap permasalahan yang dihadapi oleh buoy, yakni vandalisme dan mahalnya buoy.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fenomena
Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Oh Begitu
5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Oh Begitu
Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

Kita
Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Oh Begitu
Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Oh Begitu
Mengenal PCI Jantung, Prosedur Medis untuk Penyakit Jantung Koroner

Mengenal PCI Jantung, Prosedur Medis untuk Penyakit Jantung Koroner

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.