Kompas.com - 01/10/2018, 11:57 WIB
Gempa bermagnitudo 5,0 atau lebih besar yang terjadi di wilayah Indonesia selama 50 tahun sejak 1968 hingga September 2018 yang dicatat oleh USGS. Data diambil pada 30 September 2018 pukul 20.00 WIB. KOMPAS.com/LAKSONO HARI WGempa bermagnitudo 5,0 atau lebih besar yang terjadi di wilayah Indonesia selama 50 tahun sejak 1968 hingga September 2018 yang dicatat oleh USGS. Data diambil pada 30 September 2018 pukul 20.00 WIB.

KOMPAS.com — Setelah gempa Donggala bermagnitudo 7,4 pada Jumat (28/9/2018) yang diikuti dengan tsunami Palu yang diperkirakan mencapai ketinggian 3 meter, ada dua reaksi warga Indonesia: nyinyir tentang peringatan dini yang diakhiri dan prihatin untuk Palu.

Sementara dua reaksi itu sangat berasalan, ada satu hal lagi yang perlu dilakukan, mengambil pelajaran dari bencana ini.

Ketahui Keruwetannya

Bencana yang terjadi kali ini cukup kompleks. Gempa bermagnitudo besar dipastikan mengakibatkan kerusakan. Namun, tsunami yang datang menerjang Palu sungguh tak terduga. Syarat tsunami adalah terjadinya gempa di zona subduksi atau pertemuan dua lempeng, episentrum pada kedalaman kurang dari 70 km, dan gerakan sesar naik.

Gempa kemarin memiliki sesar mendatar dan berpusat di daratan. Artinya, sebenarnya potensi terjadinya tsunami sangat kecil.

Ahli tsunami Widjo Kongko dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Abdul Muhari dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa karakter lepas pantai Palu yang berbentuk teluk turut memainkan peranan. Gelombang tsunami bisa diamplifikasi ketika masuk teluk.

Namun, bentuk teluk saja kemungkinan besar tak menjadi faktor utama yang menyebabkan gelombang tsunami mencapai sekitar 3 meter, seperti di rekaman video amatir.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tsunami disebabkan oleh longsoran bawah laut. Tetapi Widjo dan Muhari berpendapat, itu masih spekulasi.

"Perlu dibuktikan dengan survei batimetri dasar laut untuk mengonfirmasi," kata Muhari ketika dihubungi Kompas.com, Minggu (30/9/2018).

Baca juga: Bagaimana Gempa dan Longsor Berduet Memicu Tsunami Palu? Ini Ceritanya

Pelajaran untuk BMKG

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X