Kompas.com - 25/09/2018, 18:36 WIB

KOMPAS.com - Plastik, pada saat ini, sudah menjadi salah satu sumber masalah utama di lautan yang mengancam ekosistem di dalamnya. Beberapa penelitian serta temuan lain bahkan secara nyata sudah mengungkap keberadaan plastik yang ditemukan dalam tubuh mahluk laut.

Tapi apa yang menjadi temuan para ilmuwan sudah menunjukkan lebih dari pada itu. Mikroplastik yang terdapat di air ternyata bisa berpindah dan masuk ke rantai makanan lain di daratan melalui nyamuk.

Ini bermula ketika jentik nyamuk yang berada di air menelan mikroplastik. Rupanya partikel-partikel plastik itu ikut menempel di tubuh jentik hingga mereka bertransisi menjadi nyamuk dewasa.

Baca juga: Bukan Cuma Bikin Gatal, Gigitan Nyamuk Bisa Pengaruhi Kekebalan Tubuh

Nyamuk-nyamuk ini pada akhirnya akan di makan oleh burung atau kelelawar, yang artinya mikroplastik akan berakhir di perut hewan darat, bukan hanya mahluk laut. Mikroplastik ini pun lantas berpotensi masuk ke dalam rantai makanan dan ekosistem lebih jauh lagi.

"Ini adalah penelitian yang membuka mata, yang telah menunjukkan kepada kita untuk pertama kalinya bahwa mikroplastik mampu menavigasi beberapa tahapan kehidupan pada serangga, yang memungkinkan mereka untuk mencemari semua jenis mahluk hidup yang biasanya tidak akan terpapar oleh plastik," kata Amanda Callaghan, pakar biologi dari University of Reading, Inggris.

"Ini adalah kenyataan yang mengejutkan bahwa plastik mengotori hampir setiap sudut lingkungan dan ekosistemnya," tambahnya.

Callaghan dan rekan-rekannya melakukan penelitian tersebut dengan cara memberikan microbeads plastik kepada larva nyamuk di laboratorium dan kemudian memantau pertumbuhan mereka melalui mikroskop.

Hasilnya, para peneliti menemukan jika plastik tetap berada di pupa dan serangga dewasa melalui tubulus malphigi atau sistem ekskresi serangga.

Baca juga: Bukti Baru, Nyamuk Bisa Cium Bau Orang yang Terinfeksi Malaria

Mikroplastik seperti ini dapat memakan waktu ratusan tahun untuk teruarai, dan penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil biji-biji plastik, maka semakin besar kemungkinan mereka bertahan di tubuh nyamuk.

Sekarang, kita tahu pecahan-pecahan mikroskopis yang berbahaya masih bertahan ketika nyamuk berubah bentuk dan keluar dari air.

"Temuan ini merupakan hal yang menggangu, mengetahui bahwa plastik dapat berpindah dari larva ke nyamuk dewasa, kemudian menjadi makanan untuk hewan yang lebih besar lagi. Kita perlu mengurangi penggunaan plastik secara drastis," kata Emma Priestland, dari Earth Plastics.

Selain nyamuk, serangga seperti lalat, capung juga memulai kehidupan mereka di kolam, yang artinya ada kemungkinan juga plastik tertinggal dalam tubuh mereka dan menyebar ketika dimangsa oleh hewan yang lebih besar.

Semoga saja penelitian yang sudah diterbitkan dalam Biology Letters ini bisa membantu lebih banyak pihak untuk mengurangi penggunaan plastik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, Sejarah Teks Proklamasi yang Dibacakan Soekarno

Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, Sejarah Teks Proklamasi yang Dibacakan Soekarno

Oh Begitu
Lomba 17 Agustus Sering Bikin Cedera, Ini Pesan Dokter untuk Menghindari Cedera

Lomba 17 Agustus Sering Bikin Cedera, Ini Pesan Dokter untuk Menghindari Cedera

Oh Begitu
Bunga Bangkai Mekar di Bekasi Sejenis Suweg, Tanaman Apa Itu?

Bunga Bangkai Mekar di Bekasi Sejenis Suweg, Tanaman Apa Itu?

Oh Begitu
Lapisan Es Antartika Meleleh Lebih Cepat, Begini Penampakannya

Lapisan Es Antartika Meleleh Lebih Cepat, Begini Penampakannya

Fenomena
Bagaimana Dinosaurus Mampu Menopang Tubuh Raksasanya?

Bagaimana Dinosaurus Mampu Menopang Tubuh Raksasanya?

Fenomena
Apakah Gigitan Lintah Berbahaya?

Apakah Gigitan Lintah Berbahaya?

Kita
Perubahan Iklim Perburuk Penyebaran Penyakit Menular pada Manusia

Perubahan Iklim Perburuk Penyebaran Penyakit Menular pada Manusia

Oh Begitu
Vaksin Baru Covid-19 Diklaim Bisa Lawan Dua Varian Virus Corona, Disetujui di Inggris

Vaksin Baru Covid-19 Diklaim Bisa Lawan Dua Varian Virus Corona, Disetujui di Inggris

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Belalang Bisa Mencium Sel Kanker Manusia | Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur | Ancaman Jakarta Tenggelam

[POPULER SAINS] Belalang Bisa Mencium Sel Kanker Manusia | Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur | Ancaman Jakarta Tenggelam

Oh Begitu
Setelah Peristiwa Jatuhnya Roket China di Indonesia

Setelah Peristiwa Jatuhnya Roket China di Indonesia

Fenomena
Cara Mencegah Tomcat Masuk Rumah Menurut Pakar

Cara Mencegah Tomcat Masuk Rumah Menurut Pakar

Oh Begitu
Status Konservasi Monyet Ekor Panjang Terancam Berbahaya Risiko Kepunahan

Status Konservasi Monyet Ekor Panjang Terancam Berbahaya Risiko Kepunahan

Oh Begitu
Ikan Channa Maru, Ikan Gabus Predator Primitif Bercorak Indah

Ikan Channa Maru, Ikan Gabus Predator Primitif Bercorak Indah

Fenomena
Berencana Bikin Bangunan di Luar Angkasa, Ahli Kembangkan Semen Khusus

Berencana Bikin Bangunan di Luar Angkasa, Ahli Kembangkan Semen Khusus

Oh Begitu
Pertama Kalinya, Infeksi Cacar Monyet Ditemukan pada Anjing di Perancis

Pertama Kalinya, Infeksi Cacar Monyet Ditemukan pada Anjing di Perancis

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.