Terobosan Baru, Ahli Jepang Bikin Program Fertilisasi Lewat Darah

Kompas.com - 23/09/2018, 12:56 WIB
Ilustrasi sel darah NIHIlustrasi sel darah

KOMPAS.com – Dalam upaya memerangi infertilitas, para peneliti Jepang membuat sebuah kemajuan dengan menciptakan prekursor sel telur manusia dari sel darah wanita.

Para ilmuwan berpendapat ini adalah langkah penting dalam dunia sains, mereka menyebut temuan ini sebagai teknologi "game-changing" yang berpotensi mengubah reproduksi.

Sebuah studi lebih dari satu dekade lalu mengungkap bahwa kulit atau sel darah dapat diprogram ulang menjadi sel induk yang mampu berkembang menjadi semua jenis jaringan dalam tubuh. Temuan ini tak heran menjadi salah satu teori yang paling menggiurkan dalam penelitian biomedis.

Adalah Mitinori Saitou, peneliti sel induk dari Universitas Kyoto, Jepang, yang memimpin penelitian selama bertahun-tahun untuk menerapkan pendekatan itu pada sel telur dan sperma.

Baca juga: Infertilitas Dialami 3 dari 200 Wanita, Haruskah Bayi Tabung?

Dalam studi yang terbit di jurnal Science, Saitou dan timnya menciptakan sel induk dari sel darah manusia dan kemudian mengembangkannya menjadi sel reproduksi "primordial" pada tahap awal perkembangan telur.

Timnya mampu menjaga sel-sel tersebut hidup selama empat bulan dengan menginkubasinya dalam sebuah wadah dengan sel-sel ovarium tikus. Sel-sel kemudian berkembang menjadi oogonium, prekursor sel telur matang yang muncul selama trimester pertama kehamilan.

"Saya pikir ini adalah langkah penting dan merupakan beberapa langkah yang perlu diperlukan sebelum sel telur dan sperma yang terbuat dari sel induk akan dapat digunakan," ujar Henry Greely, direktur pusat hukum dan biosciences di Universitas Stanford, dan penulis The End of Sex dan Future of Human Reproduction, dilansir Science Alert, Jumat (21/9/2018).

Banyak ilmuwan berpendapat hal seperti ini adalah permasalahan waktu dimana para ilmuwan akan mampu menciptakan telur matang.

"Pencapaian yang sama dalam sel manusia hanya masalah waktu. Kami belum melakukan ini, tetapi ini tidak dapat diungkiri sebagai langkah maju yang spektakuler," kata Eli Adashi, dari Universitas Brown yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Baca juga: Kok Bisa Antibodi Istri Sebabkan Infertilitas Tak Terjelaskan?

Kemungkinan besar metode ini akan memunculkan banyak pertanyaan terkait keamanan dasar dan perihal etika yang membingungkan.

Ahli biologi sel induk Harvard Medical School, Toshi Shioda berpendapat bahwa setelah tantangan teknis dapat diatasi, perhatian utama akan pada kemungkinan munculnya kanker atau penyakit lain yang dapat menyerang bayi yang dibuat dengan metode ini.

Saitou mengatakan target berikutnya adalah mengembangkan metode ini untuk mengembangkan oogonium kepada tahap yang lebih jauh. Salah satunya dengan mampu mengingkubasi sel telur dengan embrio sel ovarium dari manusia, bukan tikus.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Fenomena
CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

Oh Begitu
Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Oh Begitu
9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

Oh Begitu
BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Fenomena
Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Fenomena
[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

Fenomena
NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

Fenomena
Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Fenomena
Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Oh Begitu
Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Oh Begitu
BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

Oh Begitu
BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X