Kompas.com - 17/09/2018, 19:34 WIB


KOMPAS.com - Para ilmuwan dari UC Berkeley di California Utara baru-baru ini telah mempelajari ratusan spesies bakteri yang bisa memicu tegangan listrik kecil. Uniknya, banyak dari spesies bakteri itu yang sebenarnya tinggal di perut manusia.

Bakteri elektrogenik atau bakteri penghasil listrik umumnya hidup di lingkungan ekstrem yang  rendah oksigen, seperti dasar danau atau di jauh dalam tambang. Meski mereka dapat ditemukan di berbagai tempat, para ahli cukup terkejut saat menemukannya hidup damai di usus kita.

"Kita mengetahui ada begitu banyak bakteri yang berinteraksi dengan manusia, baik yang sebagai patogen atau probiotik hingga mikrobiota yang terlibat dalam fermentasi produk makanan. Tapi, fakta bahwa kita juga berinteraksi dengan bakteri elektrogenik mungkin telah terlewatkan sebelumnya," ujar Dan Portnoy, profesor biologi molekuler dan sel di UC Berkeley, dilansir IFL Science, Kamis (13/9/2018).

Baca juga: Kaya Probiotik, Bakteri Tinja Bayi Bantu Pencernaan Lebih Sehat

"Temuan ini dapat membantu kita mengetahui bagaimana bakteri-bakteri menginfeksi kita atau membantu kita punya perut yang sehat," sambungnya.

Seperti dilaporkan di jurnal Nature, beberapa spesies bakteri seperti Listeria yang sering dihubungkan dengan penyebab keracunan makanan dan Lactobacilli yang penting dalam fermentasi yoghurt adalah contoh bakteri elektrogenik.

Bakteri tersebut dapat mengalirkan tegangan listrik hingga 500 mikroampere. Jumlah ini sangat kecil, bahkan tidak cukup untuk mengisi daya ponsel.

Meski begitu, para ahli percaya temuan mereka dapat digunakan untuk mengembangkan "baterai hidup" atau baterai bioenergi yang bisa digunakan untuk menghasilkan listrik pada pusat pengolahan air limbah.

Lantas, untuk apa bakteri membuat listrik?

Ahli mengungkap, alasan bakteri menghasilkan listrik sama seperti alasan mengapa kita bernapas. Bakteri ingin mengeluarkan elektron yang muncul saat proses metabolisme terjadi dan untuk mendukung produksi energi.

Bakteri yang hidup di lungkungan ekstrem dengan kadar oksigen rendah sering menggunakan mineral seperti besi atau mangan sebagai penerima elektron.

Proses ini bagaimanapun membutuhkan banyak reaksi kimia. Salah satu reaksinyanya adalah proses bioelektrokimia di mana elektron ditransfer dari bagian dalam ke luar sel.

Baca juga: Peneliti Temukan Bakteri yang Bisa Ubah Golongan Darah

Singkatnya, mereka "menghirup" logam dan menghasilkan tegangan listrik kecil sebagai hasilnya.

"Dari struktur bakteri dan lingkungan kaya vitamin yang mereka tempati tampaknya memudahkan mereka untuk efektif mentransfer elektron keluar dari sel," kata Sam Light, rekan peneliti.

"Jadi kami berpikir bakteri yang telah dipelajari secara konvensional menyerap mineral menggunakan transfer elektron ekstraseluler untuk bertahan hidup, sedangkan bakteri yang baru diidentifikasi ini menggunakan transfer elektron ekstraseluler karena proses itu mudah (mereka lakukan)," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.