Fosil Burung Raksasa Ini Beri Petunjuk Manusia Awal di Madagaskar

Kompas.com - 13/09/2018, 19:34 WIB
Temuan ini mengungkapkan kapan pertama kali manusia tiba di Madagaskar lebih jauh dari yang kita kira. (Science News/KOMPAS.com) Temuan ini mengungkapkan kapan pertama kali manusia tiba di Madagaskar lebih jauh dari yang kita kira. (Science News/KOMPAS.com)

KOMPAS.com – Selama bertahun-tahun para arkeolog telah bergulat dengan pertanyaan tentang kapan manusia pertama kali datang di Madagaskar.

Pada penelitian sebelumnya, dikatakan bahwa manusia menempati pulau Madagaskar pertama kali pada 2500 hingga 4000 tahun yang lalu. Namun, pernyataan tersebut kini mendapat bantahan.

James Hansford dan koleganya dari Zoological Society of London telah menemukan bukti keberadaan manusia di Madagaskar jauh lebih lama dari yang kita perkirakan.

Hal ini ditunjukkan melalui temuan tulang burung gajah, nenek moyang burung unta, yang telah berusia 10.000 tahun. Melalui tulang ini, para peneliti menemukan bekas goresan yang ditinggalkan oleh manusia saat memotong daging burung terbesar pada zamannya tersebut.

"Tidak ada proses erosi alami yang bisa membuat tanda ini," ungkap Hansford dikutip dari News Week, Kamis (13/09/2018).

"Penggunaan alat pada tulang yang masih segar meninggalkan bekas yang sangat jelas seperti saat memotong daging atau ketika alat besar memotong ligamen dan tendon untuk mematahkan anggota badan," imbuhnya.

Hansford dan timnya menemukan tulang ini satu dekade lalu di Sungai Natal selatan Madagaskar bersamaan ketika mereka menemukan situs baru di wilayah yang sama.

Situs arkeologi tersebut kaya dengan peninggalan binatang raksasa kuno. Bukan hanya burung gajah, salah satu fosil yang ditemukan adalah milik kuda nil dan buaya yang hidup 10.000 tahun lalu.

Baca juga: Termasuk Primata, Kenapa Lemur Madagaskar Ini Justru Mirip Tupai?

Patricia Wright, salah satu peneliti yang terlibat, mengatakan bahwa dari lokasi situs itu menunjukkan masyarakat yang menyembelih hewan-hewan tersebut telah tinggal di sana selama beberapa waktu.

"Situs ini berada di tengah-tengah pulau sehingga ini bukan sekedar orang-orang yang mampir ke sini setelah pesta mereka. Mereka harus berjalan selama berminggu-minggu dari pantai untuk mencapai situs ini," kata peneliti dari Stony Brook University itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber Newsweek
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X