Awas, Kurang Tidur Bikin IPK Turun - Kompas.com

Awas, Kurang Tidur Bikin IPK Turun

Kompas.com - 13/09/2018, 14:34 WIB
Ilustrasi tidur dengan kipas anginmrehan Ilustrasi tidur dengan kipas angin

KOMPAS.com - Sebuah penelitian terbaru menyarankan bagi mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai bagus untuk menghindari begadang dan tidak mengambil kelas pagi. Itu karena kurang tidur kemungkinan akan berakibat buruk pada hasil akademik.

Menurut penelitian tersebut, kurang tidur memiliki dampak buruk pada prestasi akademik yang setidaknya sama dengan efek yang ditimbulkan oleh konsumsi minuman keras atau narkoba.

Setiap malam dalam satu pekan di mana mahasiswa mengalami gangguan tidur, terkait dengan penurunan indeks prestasi kumulatif ( IPK) sebesar 0,02 poin. Selain itu, kurang tidur bisa meningkatkan risiko tidak akan melanjutkan mata kuliah sebanyakan 10 persen.

" Mahasiswa yang memiliki jam tidur rutin yang baik memiliki nilai IPK lebih tinggi sebanyak 0,14 poin dibandingkan mahasiswa yang selalu kurang tidur," kata J. Roxanne Prichard, Direktur Penelitian di Universitas St. Thomas di Saint Paul, Minnesota.

"Saat Anda mengerjakan pekerjaan sekolah dalam kondisi cukup istirahat, Anda akan menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaikan persoalan yang rumit dengan lebih efisien," tambah Prichard.

Temuan ini didapatkan setelah para peneliti mengamati 55.322 mahasiswa melalui survei yang diadakan pada 2009.

Secara keseluruhan, mahasiswa yang memiliki IPK rata-rata sebesar 3,21 mengalami kesulitan tidur selama 2,4 malam dalam sepekan.

Mereka mengaku susah untuk tidur cepat atau tetap terjaga, bangun dengan merasa seperti tidak tidur, atau merasa kelelahan pada siang hari.

Penelitian menemukan, mahasiswa tahun pertama adalah yang paling sering mendapatkan nilai buruk sebagai dampak dari kesulitan tidur ini.

Baca juga: Hati-hati, Ini Bahayanya Tidur Masih Memakai Lensa Kontak

Di kalangan para mahasiswa baru, makin sering mereka mengalami kesulitan tidur, memicu dampak yang sama pada nilai IPK dengan orang yang mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Untuk mahasiswa tingkat atas, dampaknya sama dengan orang yang berada dalam hubungan penuh kekerasan.

Hanya masalah kesulitan belajar, depresi, atau kegelisahan yang mempunyai dampak lebih besar pada kesuksesan akademik daripada dampak dari kualitas tidur.

Mahasiswa baru memiliki risiko kegagalan sebanyak 14 persen dalam sebuah mata kuliah akibat tidak mendapatkan tidur yang cukup.

Sayangnya, edukasi mengenai perlunya istirahat yang cukup belum menjadi standar program orientasi mahasiswa baru.

Lebih dari 2/3 mahasiswa yang ikut dalam penelitian mengatakan bahwa mereka tidak menerima informasi apapun dari universitas tempat mereka belajar mengani masalah tidur.

Sebaliknya, 83 persen mengaku bahwa mereka mendapatkan edukasi mengenai penggunaan narkoba dan alkohol.


Namun tetap saja, hasil-hasil penelitian menunjukkan mahasiswa bisa mendapat manfaat dari edukasi edukasi mengenai cara tidur tepat waktu, kata Dr. James Pagel dari Universitas Colorado Anschutz Medical Campus, AS.

Menurut Mary Hysing dari Unversitas Bergen di Norwegia, idealnya mahasiswa tidur selama 7-9 jam setiap malam.

Komentar
Close Ads X