Pria Bisa Berhubungan Seks saat Disfungsi Ereksi, tapi Ada Efeknya - Kompas.com

Pria Bisa Berhubungan Seks saat Disfungsi Ereksi, tapi Ada Efeknya

Kompas.com - 30/08/2018, 12:16 WIB
Disfungsi ereksisaiyood Disfungsi ereksi

KOMPAS.com – Disfungsi ereksi umumnya dikaitkan dengan ketidakmampuan pria untuk dapat mempertahankan ereksi. Pada kasus ini, biasanya pria malu untuk berkonsultasi pada dokter karena berpikir gangguannya tidak dapat disembuhkan.

Berkaitan dengan hal itu, dr. Nugroho Setiawan, ahli andrologi dari Rumah Sakit Umum Fatmawati menegaskan, pria yang mengalami disfungsi ereksi tetap bisa berhubungan seks dengan pasangan hanya saja tidak memuaskan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Nugroho menjelaskan ada empat tingkatan dalam ereksi. Ereksi sempurna ada di tingkat keempat, sementara tingkat pertama sampai ketiga tergolong disfungsi ereksi.

Baca juga: Disfungsi Ereksi Menyerang Banyak Pria, Kenali Tandanya

Menurut Nugroho, ereksi di tingkat ketiga ketegangan penis tidak penuh namun tetap dapat melakukan penetrasi.

Dikarenakan penis tidak menegang sempurna, hubungan seks menjadi tidak maksimal karena pria mengalami ejakulasi dini sementara perempuan butuh waktu lebih panjang untuk orgasme hingga ejakulasi.

"Untuk perempuan respons seksual butuh waktu yang panjang. Nah itu kalau dia (perempuan) belum sampai maksimal, ia tidak akan menikmati dengan baik. Jadi harus nunggu kedua belah pihak timbul respon seksual supaya bisa menikmati bersama," jelas Nugroho saat dijumpai di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (29/8/2018).

Nugroho menegaskan, hubungan seks harus menimbulkan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan untuk kedua belah pihak. Bila melakukan hubungan seks yang tidak klimaks, dikhawatirkan akan muncul kekecewaan pada pasangan, kemudian tidak ingin melakukan hubungan seks.

Selain itu dalam hubungan seks yang berat sebelah, wanita menjadi pihak yang paling banyak dirugikan.

"Kalau hubungan seks tidak bisa dinikmati, wanita ini banyak ruginya. Karena mereka menampung cairan semen (air mani) pria yang kemudian akan keluar lagi. Ini benar terjadi. Makanya kalau tidak terjadi timbal balik yang baik dalam hubungan seksual, mereka (wanita) biasanya tidak ingin melakukan (seks) lagi," ujarnya.

Penanganan disfungsi ereksi

Untuk mencegah hal itu terus terjadi dan demi kehidupan rumah tangga yang harmonis, Nugroho menyarankan agar pria menjalani gaya hidup sehat. Mulai dari menjaga pola makan dan asupan makanan hingga berolahraga.

"Seorang pria dengan disfungsi ereksi disarankan untuk berhenti merokok, mengurangi atau berhenti minum alkohol, berhenti mengonsumsi obat-obatan terlarang, dan meningkatkan aktivitas fisik," tegas Nugroho.

Lebih penting lagi, hindari pengobatan yang tidak terjamin atau tidak sesuai dengan rekomendasi dokter. Pasalnya, banyak pria yang mengalami kondisi ini memilih untuk pengobatan alternatif yang belum dapat dipastikan efektivitas dalam mengobati disfungsi ereksi.

"Orang sering tidak menyadari resiko dan efek kemudian hari dari tindakan pengobatan alternatif. Sebagian besar obat memiliki efek samping dan kontra indikasi jika obat dikonsumsi secara sembarangan atau dikonsumsi bersama dengan obat lain. Jadi untuk memastikan pengobatan yang tepat, seorang pasien harus selalu berkonsultasi dengan dokter," kata Nugroho.

Baca juga: Benarkah Sering Bersepeda Picu Disfungsi Ereksi?

Nugroho menegaskan, sehat tidaknya penis bukan berdasarkna ukuran, namun kemampuannya untuk ereksi.

"Penis yang baik tidak harus panjang dan besar. Tapi penis yang baik, bisa mempertahankan kekerasannya," tutupnya.



Close Ads X