Pro Kontra Rekayasa Iklim untuk Selamatkan Bumi dari Pemanasan Global

Kompas.com - 23/11/2017, 17:04 WIB
Warga melihat Gunung Sinabung menyemburkan material vulkanik saat erupsi, di Karo, Sumatera Utara, Rabu (2/8/2017). Aktivitas Sinabung kembali meningkat sejak Rabu pagi, tercatat puluhan kali gunung itu melontarkan abu dan awan panas yang menyebabkan aktivitas warga terganggu.ANTARA FOTO/MAZ YONS Warga melihat Gunung Sinabung menyemburkan material vulkanik saat erupsi, di Karo, Sumatera Utara, Rabu (2/8/2017). Aktivitas Sinabung kembali meningkat sejak Rabu pagi, tercatat puluhan kali gunung itu melontarkan abu dan awan panas yang menyebabkan aktivitas warga terganggu.

KOMPAS.com -- Isu soal pemanasan global menjadi pekerjaan rumah bagi setiap orang. Tak terkecuali para ilmuwan yang masih terus mencoba merumuskan cara untuk melawan perubahan iklim yang terjadi di bumi.

Salah satu rencana yang sedang ramai dibicarakan adalah dengan melakukan rekayasa iklim atau geoengineering.

Beberapa ilmuwan percaya bahwa menembakkan aerosol sulfat ke angkasa akan membantu mendinginkan bumi.

Ide ini datang dari erupsi gunung berapi, di mana ketika terjadi letusan, aerosol yang terbentuk saat erupsi terlempar ke atmosfer dan menciptakan lapisan reflektif yang menghalangi sinar matahari. Bumi pun menjadi dingin karena sinar matahari terhalang.

Baca juga : 7 Tragedi Kesehatan yang Disebabkan oleh Pemanasan Global

Namun, rekayasa iklim yang disebut dengan injeksi aerosol stratosfer ternyata bisa memicu efek samping yang tidak menguntungkan bagi bumi.

Sebuah laporan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communication, mengungkapkan bahwa peledakan aerosol ke atmosfer justru akan berdampak buruk, serta menghasilkan efek yang berbeda tergantung di mana aerosol itu ditembakkan dan bagaimana aerosol menyebar.

Riset yang dilakukan oleh peneliti University of Exeter ini mensimulasikan bagaimana injeksi aerosol ke kedua belahan bumi bisa mempengaruhi iklim antara tahun 2020 dan 2070.

Peneliti juga menemukan adanya konsekuensi negatif di kedua wilayah tersebut, antara lain kekeringan dan angin topan.

Baca juga : Bagaimana Harvey, Irma, dan Jose Membuktikan Perubahan Iklim?

Penyemprotan aerosol di belahan bumi utara, misalnya, akan menyebabkan angin topan yang lebih sedikit di Atlantik Utara, tetapi akan menimbulkan kekeringan di sub- Sahara Afrika dan sebagian India.

"Baik untuk sebagian daerah tapi akan buruk untuk bagian lain di bumi," kata Anthony Jones, peneliti yang melakukan studi ini seperti dikutip dari The Verge, Selasa (14/11/2017).

Sementara itu, penyemprotan aerosol di belahan bumi bagian selatan tidak akan menciptakan kekeringan, tetapi akan menciptakan badai tropis di Atlantik Utara yang berpotensi merusak.

Bukan hanya soal dampak terhadap lingkungan saja, kekhawatiran lain terhadap rekayasa iklim juga muncul.

Baca juga : Bagaimana Perubahan Iklim Mendorong Orang untuk Gabung ISIS?

Menurut kritikus seperti Pat Mooney dari ETC Group, organisasi lingkungan berbasis Montreal, geoengineering dapat memicu konflik global antara negara-negara beriklim sedang dan tropis dengan negara-negara utara yang kaya.

Mereka seakan-akan menetapkan suhu dunia, sementara zona tropis yang lebih miskin dibiarkan menanggung akibatnya.

Injeksi aerosol stratosfer mungkin bukan cara terbaik untuk melawan perubahan iklim, meski peneliti terus mematangkan dan bereskperimen dengan metode ini.

Namun, metode ini merupakan ide yang menarik dan bisa menjadi opsi menangkal perubahan iklim. Hanya saja penting untuk memikirkan risiko potensial dan konsekuensi yang tidak merata akibat dari rencana tersebut.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberThe Verge
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X