Pentingnya Fermentasi Rumen dalam Meningkatkan Produktivitas Sapi

Kompas.com - 14/08/2018, 12:09 WIB
Prof. Nahrowi, Guru Besar Fakultas Peternakan, IPB, saat menjadi pembicara dalam kegiatan yang digelar oleh LIPI. Prof. Nahrowi, Guru Besar Fakultas Peternakan, IPB, saat menjadi pembicara dalam kegiatan yang digelar oleh LIPI.

 

CIBINONG, KOMPAS.com – Untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong dan sapi perah, peternak perlu memperhatikan penggunaan pakan yang diberikan. Kebanyakan peternak, khususnya peternak kecil di pedesaan, hanya mengandalkan pakan hijau seperti rumput untuk dikonsumsi ternak mereka.

Cara tersebut bukan sepenuhnya salah, namun pada dasarnya kita dapat meningkatkan produktivitas sapi potong dan perah ke tahap berikutnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sapi adalah melalui pakannya.

Menurut Yantiati Widyastuti, Koordinator Pusat Unggulan Peternakan Sapi Perah LIPI, pakan mempunyai peran yang sangat besar dalam peningkatan, baik daging atau pun susu pada sapi.

Baca juga: Ilmuwan: Susu Kecoak Lebih Bergizi dari Susu Sapi

“Peningkatan produktivitas pakan adalah unsur utama. Kita (dalam) pengadaan pakan tentu saja kualitasnya harus dipertahankan. Peternak harus mengerti benar, bahwa hewan tidak sembarangan diberikan pakan,” jelas Yanti saat ditemui pada kegiatan workshop Evaluasi Kualitas Pakan dan Ekologi Rumen untuk Meningkatkan Produktivitas Sapi Potong dan Perah di Bioteknologi LIPI Cibinong.

Melalui pakan, Yanti menerangkan dapat terciptanya fermentasi yang baik di dalam lambung sapi yang memberikan hasil maksimal untuk peternakan. Cara kerja fermentasi ini hampir mirip seperti cara kerja fermentasi susu yang sering dikonsumsi manusia, yaitu dengan menciptakan bakteri baik di dalam perut.

“Jadi fermentasi rumen itu pencernaan dilakukan oleh mikroorganisme yang banyak di dalam system pencernaan. Jadi tujuannya ingin mengendalikan produktivitas sapi dari dalam,” ungkap Yanti.

Yanti melanjutkan, fermentasi dalam sistem pencernaan sapi dapat mengarahkan kepada peningkatan hasil sapi yang kita inginkan.

Baca juga: Peternakan Terbesar di Indonesia Dibuka, Tampung 10.000 Sapi Perah

“Seperti probiotik akan mengubah dari ekologi mikroorganisme di dalam perut. Kemudian hasil fermentasi akan berubah juga. Apakah akan berubah ke asam propionat atau asam asetat. Ini penting sebelum kita fokus pada peningkatan berat badan sapi,” tambahnya lagi.

Untuk diketahui, asam diperuntukan untuk sapi yang diambil hasil dagingnya, sedangkan asam asetat diperuntukkan bagi sapi yang diambil hasil susunya.

Namun demikian, keberhasilan fermentasi rumen dipengaruhi oleh pakan apa yang kita berikan kepada sapi. Bahkan untuk di Indonesia, masing-masing tempat memiliki perbedaan kandungan dalam pakan sapi.

“Pakan di Indonesia itu sangat bervariasi. Setiap tempat itu berbeda-beda, maka dari itu untuk meningkatkan produktivitas sapi, perlu dilakukan analisis pada pakan sapi di wilayahnya masing-masing,” ungkap Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc, Guru besar Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB.

Peningkatan produktivitas sapi potong maupun sapi perah saat ini memang menjadi hal yang sangat penting terutama mendekati moment Idul Adha. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kemtan), hingga tahun 2018, Indonesia baru dapat memenuhi kebutuhan daging sapi sebesar 70 persen dan sisanya masih impor.

Sedangkan kebutuhan susu nasional tercatat berkisar 4,5 juta ton, namun susu lokal baru mencukupi sebanyak 19 persen atau sekitar 864.600 ton. Hal ini menyebabkan angka impor susu yang sangat besar.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X