Kompas.com - 11/08/2018, 20:09 WIB
Palmarin menjadi harapan dalam mengurangi perluasan lahan kelapa sawit. Diketahui, inovasi ini dapat meningkatkan produksi kelapa sawit hingga 30 persen. Palmarin menjadi harapan dalam mengurangi perluasan lahan kelapa sawit. Diketahui, inovasi ini dapat meningkatkan produksi kelapa sawit hingga 30 persen.

KOMPAS.com – Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman strategis di Indonesia yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi dan sosial. Namun, perluasan lahan kelapa sawit seringkali mengganggu habitat binatang di sekitarnya.

Meskipun kelapa sawit menjadi sumber pendapatan dan pembangunan ekonomi hampir seluruh masyarakat Indonesia, keseimbangan antara tempat tinggal hewan dan keuntungan yang kita terima perlu menjadi fokus penting.

Dalam pameran Ritech Expo 2018, yang merupakan serangkaian acara dari Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23, PT Palmarin Agro Indonesia bersama dengan Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia memamerkan inovasi berupa biostimulan untuk kelapa sawit yang mungkin dapat menjadi jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Baca juga: Dongeng Penjarahan Hutan Indonesia, Dosa Orde Baru dan Kelapa Sawit?

Menurut Firman, Direktur Pemasaran PT Palmarin Agro Indonesia, Biostimulan Palmarin dapat meningkatkan 30 persen Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit tanpa melakukan perluasan lahan.

“Apalagi sekarang sudah ada moratorium tanah-tanah sawit pada lahan gambut, otomatis produksi kelapa sawit Indonesia akan menurun. Tapi kalau kita bisa tingkatkan 30 persen produksinya, artinya kita sudah menambah jumlah yang cukup baik,” jelas Firman pada saat ditemui dalam kegiatan yang sama, di kediaman Gubernur Riau, Jumat (10/08/2018).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Firman melanjutkan, jika lahan kelapa sawit saat ini baru bisa memproduksi 3,2 sampai 3,5 ton per hektar—yang sebenarnya mampu mencapai 8 ton per hektar, dengan adanya biostimulan ini dapat meningkatkan kira-kira 1,5 ton. Sehingga dapat mendekati angka optimal dari satu hektar lahan kelapa sawit.

Baca juga: Tarik Ulur Antara Hutan Bakau dan Perubahan Iklim

“Kalau sekarang luas kelapa sawit, misalnya 15 juta hektar. Kalau kita tingkatkan 30 persennya, berarti kita sudah meningkatkan 4,5 juta hektar produksi CPO Indonesia. Jadi mengantisipasi moratorium atau pun pengurangan luas lahan,” imbuh Firman.

Biostimulan Palmarin mengandung fitohormon, asam amino, asam organik, vitamin, nutrisi makro dan mikro yang penting bagi kelapa sawit. Selain itu, Biostimulan Palmarin juga mengandung activator enzim kunci yang berperan dalam sintesa minyak.

“Karena selama ini hasil fotosintesis menghasilkan C6, H12, dan O6, yang nantinya menjadi minyak, gula, dan sebagainya. Dengan adanya activator ini, hasil fotosintesis bisa kita arahakan untuk pembentukan minyak saja,” ujar Firman

Penggunaan biostimulan pada tanaman dianggap Firman sebagai pendekatan inovatif untuk meningkatkan produksi pertanian dengan cara yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dalam menjaga stabilitas antara lahan kelapa sawit dan habitat hewan yang terganggu dengan kehadiran lahan ini, diharapkan biostimulan palmarin dapat menjadi kunci penyelesaiannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Fenomena
4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Oh Begitu
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia hingga 9 Desember

BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia hingga 9 Desember

Fenomena
Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Kita
Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Oh Begitu
Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Oh Begitu
Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Oh Begitu
Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Oh Begitu
Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Fenomena
[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

Oh Begitu
5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

Oh Begitu
Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Fenomena
4 Tahapan Siklus Menstruasi

4 Tahapan Siklus Menstruasi

Kita
Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Fenomena
Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.