Buaya Muara di Kali Grogol Susah Ditangkap, Ini Saran Ahli LIPI

Kompas.com - 29/06/2018, 07:04 WIB
 Petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta bersama Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan melakukan pencarian buaya lanjutan pada Kamis (28/6/2018) di Kali Grogol, Jakarta Barat. KOMPAS.com/RIMA WAHYUNINGRUM Petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta bersama Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan melakukan pencarian buaya lanjutan pada Kamis (28/6/2018) di Kali Grogol, Jakarta Barat.

KOMPAS.com - Para petugas mengalami kesulitan untuk menangkap buaya muara di Kali Grogol, Jakarta.

Menanggapi hal itu, ahli herpetologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hellen Kurniati, menyarankan untuk menangkap buaya tersebut pada malam hari.

Hellen mengatakan, keberadaan buaya akan lebih mudah terdeteksi dari bola matanya yang memantulkan sinar di malam hari. 

"Perburuan buaya biasanya dilakukan malam hari dengan menggunakan sorot lampu dan ketika buaya muncul ke permukaan air yang biasanya hanya bola matanya saja, matanya akan memantulkan sinar yang berwarna merah. Cara ini akan lebih mudah," kata Hellen kepada Kompas.com, Kamis (28/6/2018).

"Lalu, jangan gunakan jaring biasa, tetapi jaring yang digunakan untuk pukat harimau," tambahnya.

Baca juga: Melihat Buaya, Begini Langkah agar Terhindar dari Serangan

Sementara itu, Hellen mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir akan munculnya buaya muara di perairan umum di Kota Jakarta. Hal itu tidak mengindikasikan peningkatan populasi buaya muara.

"Kemunculan buaya di Kali Grogol tidak terkait dengan melonjaknya populasi buaya di muara sekitar Jakarta, karena buaya tidak menyukai sungai yang kotor. Misalnya, buaya dari Muara Angke akan lebih memilih ke laut daripada ke sungai yang banyak polusinya," katanya.

Selain itu, Hellen menduga kuat buaya muara yang ada di Kali Grogol adalah buaya peliharaan seseorang yang lepas ke sungai.

Hellen juga menyarankan, setelah berhasil ditangkap, buaya segera dititipkan ke penangkaran khusus buaya untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

"Jangan dilepaskan lagi ke sungai, langsung saja dibawa ke penangakaran buaya agar bisa tertangani lebih baik," katanya.

Sementara itu, keberadaan buaya muara di perairan umum di Jakarta sempat menjadi viral di media sosial.

Baca Juga: Gagalnya Penangkapan Buaya di Kali Grogol karena Pelemparan Batu

Seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (27/6/2018), usaha petugas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Utara untuk menangkap buaya di Kali Grogol gagal setelah banyak warga melempari batu ke arah buaya.

"Tadi informasi terakhir kan sudah digiring, kelihatan ke arah pintu air. Ketika dilakukan proses penangkapan, dilempar (batu) sama masyarakat, masuk lagi ke dalam," kata Widodo, petugas dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X