Sepintar Manusia, Lebah Madu Paham Konsep Nol - Kompas.com

Sepintar Manusia, Lebah Madu Paham Konsep Nol

Kompas.com - 08/06/2018, 11:32 WIB
lebah/hokkaido univlebah/hokkaido univ lebah/hokkaido univ

KOMPAS.com - Laporan terbaru dalam jurnal Science yang terbit Jumat (8/6/2018) mengungkap kemampuan lebah madu dalam memahami konsep nol.

Berkat kemampuannya, ahli menggolongkan lebah madu ke dalam kelompok hewan spesial yang dapat memahami sesuatu yang abstrak.

Seperti kita tahu, nol adalah konsep numerik tingkat lanjut yang sulit dipahami manusia di masa lalu.

Namun ternyata hal ini dapat dipahami lebah madu dengan kapasitas otak kurang dari satu juta neuron, dibandingkan otak manusia yang memiliki 86.000 juta neuron.

Baca juga: Sejarah Nol yang Sempat Disangka Angka Setan dan Peran Ilmuwan Muslim

Sebelum ilmuwan dari RMIT Universitas Melbourne, Australia menemukan lebah madu dapat memahami konsep nol, hewan seperti lumba-lumba, primata, dan beberapa burung sudah lebih dahulu terbukti dapat melakukannya.

" Nol adalah konsep yang sulit dipahami dalam matematika, anak-anak mungkin butuh beberapa tahun untuk memahaminya," kata Adrian Dyer dari RMIT dalam sebuah pernyataan dilansir Newsweek, Kamis (7/6/2018).

"Setelah dibuktikan monyet dan beberapa burung dapat memahami konsep nol, kami penasaran apakah serangga juga dapat melakukannya," imbuhnya.

Menurut Dyer dan timnya, lebah adalah serangga yang paling cocok untuk diteliti. Pasalnya penelitian sebelumnya telah membuktikan lebah madu dapat mempelajari keterampilan kompleks juga memahami konsep persamaan dan perbedaan.

Bagaimana melatih lebah mengenal konsep nol

Diwartakan Vox, Kamis (7/6/2018), lebah madu adalah hewan yang mudah memahami sesuatu.

Peneliti melatih lebah sama seperti melatih hewan lain, yakni dengan bantuan makanan.

"Dengan menggunakan setetes gula yang dimasukkan ke dalam warna atau bentuk tertentu, maka lebah akan terbiasa untuk datang lagi ke warna atau bentuk tertentu itu untuk mendapat makanan," jelas Dyer.

Dyer dan timnya kemudian mengeluarkan sejumlah kertas dengan cetakan kotak berwarna hitam. Masing-masing kertas memiliki jumlah kotak hitam yang berbeda.

Lebah diarahkan untuk mengenal masing-masing kertas dengan cara dipancing makanan seperti yang dijelaskan Dyer.

Awalnya lebah tersebut diarahkan untuk mengenal kertas dengan jumlah kotak yang sedikit, kemudian diganti dengan kertas lain yang memiliki jumlah kotak lebih banyak. Setidaknya ada 10 aturan dasar aritmatika dari cetakan kertas itu.

Tes yang digunakan lebah untuk memahami konsep nol Tes yang digunakan lebah untuk memahami konsep nol

Setelah lebah mempelajari aturan tersebut, mereka dapat memahami bahwa kotak hitam yang berjumlah dua lebih sedikit dari yang berjumlah empat, atau satu kotak hitam lebih sedikit dari tiga.

Menurut Dyer, mereka terus menghampiri kertas-kertas itu bahkan saat tidak lagi dipancing makanan.

Kemudian, Dyer dan tim mulai menguji apa yang akan dilakukan lebah jika hanya ada lembaran kertas kosong tanpa kotak hitam di atasnya.

Apakah mereka akan mengerti bahwa lembaran kosong artinya kurang dari satu ataupun tiga?

Hasilnya, mereka paham bahwa kertas kosong nilainya lebih kecil dari kertas mana pun.

Selain membuktikan hal tersebut, Dyer memiliki percobaan kontrol untuk mengesampingkan gagasan bahwa lebah lebih suka terbang dekat selembar kertas kosong.

"Kami butuh sekitar tiga tahun untuk mengumpulkan semua eksperimen kontrol yang membuktikan bahwa itu memang reresentasi asli dari konsep nol," ujarnya.

Baca juga: Perilaku Koloni Lebah Ternyata Mirip Respon Otak Manusia

Lebah, serangga pemikir luar biasa

Dalam penelitian tahun 2010, Dyer dan timnya membuktikan lebah madu dapat mengingat wajah manusia dan mereka melakukannya dengan caranya sendiri yang berbeda dari kita.

Dyer berpendapat lebah memiliki spektrum besar yang dapat memahami gagasan nol.

Dengan mempelajari otak kecil lebah akan membantu kita menghargai kemampuan kita sendiri, menurut Dyer.

"Ini mungkin tampak sederhana. Tetapi untuk memahami konsep nol juga dibutuhkan waktu yang lama dalam peradaban manusia. Hal itu tidak terjadi langsung," ujar Dyer.



Close Ads X