Kompas.com - 04/06/2018, 11:33 WIB
Sampah plastik di lautan. Ilmuwan menyatakan bahwa 99 persen plastik m ikroskopik di lautan hilang, kemungkinan dimakan hewan. National GeographicSampah plastik di lautan. Ilmuwan menyatakan bahwa 99 persen plastik m ikroskopik di lautan hilang, kemungkinan dimakan hewan.

KOMPAS.com - Plastik tidak hanya terlihat seperti makanan bagi hewan liar. Baunya, rasanya, dan bahkan bunyinya terdengar seperti makanan.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini terkait serial dokumenter Blue Planet II, David Attenborough, seorang broadcaster sekaligus naturalis, menjelaskan urutan bagaimana seekor burung albatros tiba di sarangnya untuk memberi makan anak-anaknya.

"Apa yang keluar dari mulutnya? Bukan ikan, dan bukan cumi-cumi - yang biasanya mereka makan. (Tapi) plastik," ujar Attenborough.

Hal ini, seperti kata Attenborough, memilukan dan aneh.

Albatros harus menempuh jarak hingga ribuan kilometer untuk mencari mangsa pilihan, yang mereka ambil dari air dengan mudah.

Bagaimana burung yang "jago" itu dapat dengan mudah tertipu, dan kembali dari perjalanan panjang mereka hanya dengan mulut yang penuh dengan plastik?

Banyak Hewan Tertipu

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, albatros bukanlah satu-satunya hewan yang tertipu plastik sebagai makanan.

Setidaknya 180 spesies hewan laut telah didokumentasikan mengkonsumsi plastik, mulai dari plankton kecil hingga paus raksasa.

Plastik telah ditemukan di dalam perut sepertiga ikan yang ditangkap di Inggris, termasuk spesies yang biasa kita konsumsi sebagai makanan.

Plastik juga telah ditemukan di dalam makanan laut lainnya seperti kerang dan lobster.

Singkatnya, hewan dari segala bentuk dan ukuran makan plastik. Apalagi, 12,7 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahunnya.

Prevalensi konsumsi plastik sebagian alasannya adalah konsekuensi dari kuantitas yang begitu besar ini.

Baca juga: Ribuan Sampah plastik Ada di Titik Terdalam Lautan, Ini Artinya

Dalam zooplankton, misalnya, itu sesuai dengan konsentrasi partikel plastik kecil di dalam air karena bagian tubuh untuk makan mereka dirancang untuk menangani partikel dengan ukuran tertentu.

Angsa-angsa di danau Kopenhagen terpaksa bertelur pada sarang dari plastikCCTV/Twitter Angsa-angsa di danau Kopenhagen terpaksa bertelur pada sarang dari plastik

"Jika ada partikel dalam kisaran ukuran ini, itu pasti makanan," kata Moira Galbraith, seorang ahli ekologi plankton di Institute of Ocean Sciences, Kanada.

Seperti zooplankton, teripang tampak tidak terlalu rewel tentang apa yang mereka makan karena mereka merangkak di dasar laut, memasukkan sedimen ke dalam mulut mereka untuk mengekstraksi makanan yang dapat dimakan.

Namun, satu analisa menunjukkan bahwa penghuni dasar samudera ini dapat mengkonsumsi lebih banyak plastik hingga 138 kali dari yang diperkirakan. Ini bisa terjadi mengingat distribusi plastik dalam sedimen.

Untuk teripang, partikel plastik mungkin lebih besar dan lebih mudah untuk diambil dengan tentakel mereka daripada makanan yang lebih konvensional.

Tapi pada spesies lain ada indikasi bahwa konsumsi plastik lebih dari sekedar proses pasif.

Banyak hewan tampaknya memilih diet ini. Untuk memahami mengapa plastik begitu menarik bagi hewan laut, kita perlu mengerti bagaimana mereka memandang dunia.

Salah Mengindra

"Hewan memiliki kemampuan indrawi dan perseptif yang sangat berbeda dari kita. Dalam beberapa kasus kemampuan mereka lebih baik dan dalam beberapa kasus kemampuan mereka lebih buruk, tetapi dalam semua kasus mereka berbeda," kata Matthew Savoca di NOAA Southwest Fisheries Science Center di Monterey, California.

Salah satu penjelasannya adalah hewan mengira plastik sebagai makanan yang biasa dimakan. Pelet plastik, misalnya, dianggap menyerupai telur ikan yang lezat.

Tetapi sebagai manusia, kita bias oleh indra kita sendiri.

Baca juga: Rumahnya Tercemar, Angsa Ini Terpaksa Bangun Sarang dari Plastik

Untuk mengerti kesukaan hewan akan plastik, para ilmuwan harus mencoba melihat dunia seperti yang hewan lakukan.

Berbeda dengan manusia yang merupakan makhluk visual, banyak hewan laut, termasuk albatros, bergantung pada indera penciuman mereka dalam mencari makan.

Savoca dan rekan-rekannya telah melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa beberapa spesies burung laut dan ikan tertarik pada plastik karena baunya.

Secara khusus, plastik mengeluarkan dimethyl sulfide (DMS), senyawa yang dikenal menarik burung mencari mangsa.

Penyu laut mati akibat tersedak sampah plastik Penyu laut mati akibat tersedak sampah plastik

Pada dasarnya, ganggang tumbuh di plastik mengambang. Ketika ganggang tersebut dimakan oleh kril - sumber makanan laut utama - ia melepaskan DMS.

Senyawa inilah yang menarik burung dan ikan yang kemudian mengunyah plastik, bukan kril yang sebenarnya mereka cari.

Bahkan untuk penglihatan, kita tidak bisa langsung mengambil kesimpulan ketika mempertimbangkan daya tarik plastik.

Seperti manusia, kura-kura laut sangat bergantung pada penglihatan mereka untuk mencari makanan.

Namun, mereka juga dianggap memiliki kemampuan untuk melihat sinar UV, membuat penglihatan mereka sangat berbeda dari kita.

Qamar Schuyler dari The University of Queensland, Australia, mendalami isi kepala penyu dengan memodelkan kemampuan visual mereka dan kemudian mengukur karakteristik visual dari plastik saat penyu melihatnya.

Schuyler juga memeriksa isi perut penyu yang sudah mati untuk mengerti plastik pilihan mereka.

Kesimpulannya adalah bahwa meski penyu muda relatif tidak pandang bulu, penyu yang lebih tua lebih suka mengincar plastik yang lunak dan tembus cahaya.

Schuyler berpendapat bahwa hasilnya menegaskan gagasan lama bahwa penyu salah mengira tas plastik dengan ubur-ubur yang lezat.

Baca juga: Makin Mengerikan, Tiap Tahun 1.000 Penyu Mati akibat Sampah Plastik

Warna juga dianggap sebagai faktor dalam konsumsi plastik, meskipun preferensi bervariasi antar spesies.

Penyu muda lebih menyukai plastik putih, sementara Schuyler dan koleganya menemukan bahwa burung laut (shearwater) memilih plastik merah.

Selain penglihatan dan penciuman, ada indera lain yang digunakan binatang dalam mencari makanan.

Banyak hewan laut berburu dengan echolocation, terutama paus bergigi dan lumba-lumba.

Echolocation dikenal sangat sensitif, namun puluhan paus sperma dan paus bergigi lainnya ditemukan mati dengan perut penuh dengan kantong plastik, onderdil mobil dan detritus manusia lainnya.

Savoca mengatakan kemungkinan echolocation mereka salah mengidentifikasi benda-benda ini sebagai makanan.

Bukan Karena Bodoh

"Ada kesalahpahaman bahwa hewan-hewan ini bodoh dan hanya makan plastik karena ada di sekitar mereka, tetapi itu tidak benar," kata Savoca.

Tragedi yang terjadi adalah bahwa semua hewan ini adalah pemburu dan penjelajah ulung. Mereka memiliki indera yang diasah oleh evolusi ribuan tahun untuk menargetkan apa yang sering menjadi jajaran mangsa spesifik.

"Plastik baru ada selama sebagian kecil dari waktu itu," kata Schuyler.

Pada saat itu, mereka entah bagaimana memasukkan plastik ke kategori "makanan".

Plastik tidak hanya terlihat seperti makanan, baunya, rasanya, dan bahkan bunyinya terdengar seperti makanan.

Sampah plastik datang dalam berbagai bentuk, ukuran, dan warna. Ini menarik bagi beragam hewan, tapi ini pula yang jadi masalahnya.

Baca juga: Viral Video Bule Berenang dengan Plastik di Lautan Bali, Ini Kata Ahli

Schuyler ingat seseorang bertanya, "mengapa kita tidak membuat semua plastik berwarna biru?", mengingat eksperimen menunjukkan warna ini kurang populer di kalangan penyu.

Tetapi penelitian lain menunjukkan bahwa untuk spesies lain, justru kebalikannya.

Jadi jika tidak ada solusi universal. Tidak ada aspek plastik yang dapat kita ubah dengan mudah untuk mencegah hewan memakannya.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari usaha kita masuk ke dalam pikiran pemakan plastik?

Savoca berharap kisah tragis seperti albatrosnya Attenborough akan membantu membalikkan perilaku konsumen terhadap plastik sekali pakai dan mendorong orang untuk berempati dengan hewan-hewan ini.

Pada akhirnya, ini akan membantu memotong pasokan makanan sampah yang masuk ke lautan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Fenomena
4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Oh Begitu
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia hingga 9 Desember

BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia hingga 9 Desember

Fenomena
Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Kita
Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Oh Begitu
Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Oh Begitu
Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Oh Begitu
Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Oh Begitu
Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Fenomena
[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

Oh Begitu
5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

Oh Begitu
Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Fenomena
4 Tahapan Siklus Menstruasi

4 Tahapan Siklus Menstruasi

Kita
Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Fenomena
Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.