Jual MP3 Sebagai Obat Ebola, Izin Praktik Dokter di California Dicabut

Kompas.com - 29/05/2018, 12:23 WIB
Ilustrasi mendengarkan musik DragonImagesIlustrasi mendengarkan musik

KOMPAS.com - Izin praktik seorang dokter di California terancam dicabut setelah menjual MP3 online yang diklaimnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Tak tanggung-tanggung, dia menyebut bahwa rekaman suara tersebut bisa menyembuhkan kondisi seperti Ebola, malaria, kolera, diare, dan banyak lagi.

Dokter tersebut adalah William Edwin Gray III yang menjual rekaman audio bernama eRemedy di situsnya MD In Your Hand.

Menurut situs tersebut, eRemedy merupakan teknologi yang dipatenkan berdasarkan "prinsip hemeophaty".

Hemeophaty sendiri merupakan terapi alternatif yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Dalam penjualan oleh dr Gray sendiri, pasien diminta menjawab secara rinci beberapa pertanyaan tentang penyakit yang dialami. Jawaban tersebut menciptakan pola "unik dan individual".

Selanjutnya, mesin algoritmik akan memilihkan salah satu dari 263 eRemedy sesuai jawaban tersebut.

Pasien kemudian bisa membeli gelombang suara selama 13 detik tersebut seharga $5 atau setara dengan Rp 280.000. Pasien bisa mendengarkan rekaman ini menggunakan ponsel atau komputer.

Dalam situsnya, dr Gray mengklaim telah menyembuhkan tiga kasus Ebola pada 2014 hanya dengan memainkan eRemedy yang sesuai beberapa kali dalam satu jam.

Dia menjelaskan bahwa sinyal energik dalam pengobatan hemeophaty ini seperti air yang bisa diekstrak menggunakan perangkat tertentu.

Sinyal yang sudah diekstraksi tersebut kemudian disimpan di komputer dalam bentuk file MP3.

Baca juga: Ajaib Nan Ilmiah : Efek Plasebo

"Hingga saat ini, saya sudah melakukannya selama tiga tahun dan itu berhasil pada pasien di seluruh dunia - semua penyakit mulai dari flu dan demam, diare, sakit punggung, dan bahkan malaria, tifus, serta kolera," kata Gray kepada Mercury News dikutip dari Newsweek, Senin (28/05/2018).

"Ada sekelompok orang di Sierra Leone yang baru-baru ini menggunakannya untuk wabah malaria besar - kami memiliki 42 kasus, 41 di antaranya sembuh dalam tiga atau empat jam hanya dengan memutar sinyal ini di ponsel mereka," sambungnya.

Namun, apa yang dilakukan oleh dokter Gray ditentang oleh Dewan Medis California. Mereka mengatakan, produk ini tidak disetujui oleh FDA.

Selain itu, mereka mempermasalahkan Gray tidak memeriksa pasien sebelum menjual produk kepada mereka dan tidak memberikan resep yang valid.

Dewan ini juga mengatakan, "Tidak ada bukti yang terdokumentasi dengan baik dalam literatur ilmiah yang ditinjau oleh sejawat bahwa obat homeophaty bisa diberikan secara elektronik melalui gelombang suara."

Robert Stewart, pendiri New York School of Homoeopathy, juga mengungkapkan kekhawatiran tentang perawatan yang dilakukan Gray.

"Jelas bagi saya bahwa apa yang dilakukannya tidak ada hubungannya dengan homeophaty," kata Stewart dikutip dari Los Angeles Times, Jumat (25/05/2018).

Tanggapan lain tentang perawatan yang dilakukan oleh Gray dilontarkan oleh Dr David Spiegel, direktur medis di Center for Integrative Medicine at Stanford University School of Medicine.

"Sejauh itu berhasil, itu mungkin sebagian besar efek plasebo," ujarnya.

David Gorski, seorang profesor bedah dan onkologi di Wayne State University yang menulis tentang pseudosains, mengatakan bahwa pendekatan Gray ini tidak masuk akal.

Baca juga: Terapi Kiropraktik untuk Migrain Mungkin Hanya Efek Plasebo

"Ada begitu banyak kesalahan di sana, saya tidak tahu harus mulai dari mana," kata Gorski.

"Saya sudah memperhatikan hal seperti ini selama 15 tahun, dan saya selalu menemukan sesuatu yang baru dan aneh," sambungnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

Oh Begitu
Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Fenomena
Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Fenomena
Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Fenomena
Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

Fenomena
Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Oh Begitu
Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

Fenomena
Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

Fenomena
Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

Oh Begitu
Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

Fenomena
Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Fenomena
Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X