Ritme Sirkadian yang Terganggu Berisiko Gangguan Mental

Kompas.com - 17/05/2018, 21:05 WIB
Ilustrasi Insomnia OcusFocusIlustrasi Insomnia

KOMPAS.com - Segala aktivitas yang kita lakukan telah mengikuti ritme sirkadian tubuh. Tubuh dengan cerdasnya paham kebiasaan kapan harus tidur, makan, bangun, dan kegiatan lainnya.

Ini semua berkat bagian otak bernama nucleus supraschiasmatik yang menjadwalkannya secara teratur.

Namun, terkadang ritme sirkadian bisa terganggu akibat shift malam, cahaya buatan, jetlag akibat perjalanan jauh, penyakit tertentu, dan penuaan.

Lantas, apa jadinya jika ritme sirkadian tubuh kita kacau?

Baca juga: Insomnia? Jangan Menambah Masalah dengan Tenggak Obat Tidur

Para peneliti di Inggris menemukan bahwa ritme sirkadian yang terganggu meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan mental. Kesimpulan ini telah mereka jabarkan dalam Jurnal The Lancet.

Kesimpulan tersebut diperoleh seusai menganalisis riwayat kesehatan sekitar 500.000 orang dewasa di Inggris. Tak hanya itu, antara tahun 2013 hingga 2016, sebanyak 90.000 orang dari jumlah tersebut dilibatkan dalam uji coba yang diawasi para peneliti.

Kegiatan para responden selama seminggu direkam dan dicatat. Sebelumnya, mereka telah dipasangi akselerometer di pergelangan tangannya supaya peneliti tahu bagaimana jam biologis para peserta.

Lalu mereka juga diminta menjawab kuesioner seputar kesehatan jiwa.

Baca juga: 5 Dampak Buruk Insomnia

Seperti yang dijabarkan Live Science pada Rabu (16/5/2018), rupanya mereka yang mengalami gangguan irama sirkadian punya peluang lebih besar mengidap gangguan depresi mayor atau bipolar.

Akibatnya, suasana hati mereka cenderung lebih mudah berubah tiba-tiba.

Mereka juga jadi rentan mengalami kesepian dan kurang puas dan tidak bahagia dengan kondisi kesehatannya. Fungsi kognitif mereka pun ikut terpengaruh dan menurun. Ini dibuktikan dengan respons yang lambat.

Kendati demikian, penelitian ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut. Pasalnya, responden yang dilibatkan adalah orang dewasa. Padahal, kebanyakan gangguan mood muncul sebelum usia 24 tahun.

Namun yang terpenting, studi ini jadi pengingat bagi kita untuk berusaha mematuhi ritme sirkadian yang dipunyai tubuh. Caranya dengan tidak malas berolahraga, jangan menyalakan lampu terlalu terang saat menjelang tidur, menghindari stres, dan makan makanan bergizi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X