Studi: Pasien Gagal Jantung Bisa Jalani Puasa dengan Aman, Asal... - Kompas.com

Studi: Pasien Gagal Jantung Bisa Jalani Puasa dengan Aman, Asal...

Kompas.com - 17/05/2018, 20:33 WIB
Ilustrasi jantungyodiyim Ilustrasi jantung


KOMPAS.com - Bulan Ramadhan dan menjalankan ibadah puasa adalah salah satu momen yang ditunggu umat muslim di seluruh dunia.

Sayang, tidak semua umat Muslim dapat menjalankan ibadah puasa karena sedang sakit atau hamil.

Bagi Anda yang memiliki gagal jantung dan takut menjalankan puasa, ahli dari European Society of Cardiology (ESC) membawa kabar baik.

Dalam presentasinya di Konferensi Tahunan ke-29 Asosiasi Jantung Saudi (SHA29) awal Maret lalu di Riyadh, Arab Saudi, ahli mengungkap pasien dengan gagal jantung dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman.

Baca juga: Serangan Jantung dan Gagal Jantung Mengintai Peminum Alkohol

Gejala gagal jantung yang meliputi sesak napas, pembengkakan pergelangan kaki, dan kelelahan, biasanya disarankan untuk membatasi asupan cairan setiap hari hingga kurang dari dua liter dan sodium kurang dari 2.500 miligram.

Mereka juga diberi obat-obatan seperti inhibitor angiotensin converting enzyme (ACE) atau bloker reseptor angiotensin II (ARB), beta blocker, diuretik dan digoxin.

"Banyak pasien gagal jantung yang sering bertanya pada dokter apakah mereka aman untuk melakukan puasa. Sayang, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang mampu menjelaskannya," kata Dr Rami Abazid, ahli jantung dari Prince Sultan Cardiac Centre, Arab Saudi, dilansir Science Daily, (1/3/2018).

Penelitian

Berangkat dari pengalaman itu, Rami dan timnya melakukan penelitian observasional porspektif yang meneliti efek puasa Ramadhan dan pengurangan fraksi ejeksi kurang dari 40 persen pada pasien dengan gagal jantung kronis. Fraksi ejeksi adalah pengukuran darah yang dipompa keluar dari ventrikel, normalnya 50 persen atau lebih.

Ada 249 pasien dengan gejala gagal jantung yang melakukan rawat jalan di tiga klinik. Dari 249 pasien, 227 pasien menjalani ibadah puasa selama Ramadhan.

Peneliti mengamati kepatuhan peserta dalam membatasi cairan dan garam serta mengonsumsi obat sejak sebelum, selama, dan sesudah Ramadhan.

Hasilnya, 209 pasien (92 persen) tidak mengalami perubahan atau gejala gagal jantung membaik, sementara 18 pasien (8 persen) kondisinya memburuk.

Pada pasien yang kondisinya memburuk disebabkan oleh ketidakdisiplinan mengikuti aturan pembatasan cairan dan garam, juga kurang patuh mengonsumsi obat gagal jantung.

"Pasien yang tidak mengikuti aturan selama Ramadhan itu disebabkan oleh kunjungan keluarga atau teman yang membawakan makanan dengan kandungan garam normal atau tinggi, dan mereka banyak minum dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan pergeseran cairan dalam tubuh," jelas Rami.

"Beberapa juga ada yang tidak disiplin dalam mengonsumsi obat. Ada pasien yang menghentikan atau mengurangi diuretik karena takut akan haus selama puasa. Ada pula obat yang semestinya diminum dua kali sehari, tapi mereka menghilangkan satu dosis atau meminum kedua dosis bersamaan," sambungnya

Dalam presentasinya, Rami menyarankan agar para dokter dapat memberikan obat yang dikonsumsi saat jam non-puasa.

Ia berharap akan ada lebih banyak penelitian untuk kasus ini untuk melihat apakah hal yang sama juga berjalan di kawasan beriklim dingin.

Baca juga: Mau Tetap Nge-Gym saat Puasa, Bagaimana Harus Melakukannya?

Kata ahli lain

"Studi ini penting karena memberi bukti awal untuk membimbing dokter memberi saran pada pasien Muslim yang mengalami gagal jantung dan ingin berpuasa. Lebih banyak penelitian diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan ini," kata Dr Mouaz Al-Mallah, kepala cardiac Imaging, King Abdul-Aziz Cardiac Center, Arab Saudi.

"Obat, garam, dan asupan cairan adalah pondasi dalam pengobatan gagal jantung dan dapat dipengaruhi oleh puasa selama Ramadhan. Para peneliti ini harus dipuji karena berhasil menghadirkan bukti yang meyakinkan. Namun saya rasa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada kelompok pasien tertentu yang berbahaya jika melakukan puasa Ramadhan," kata Profesor Marco Roffi, dari feneva University Hospital, Jenewa, Swiss.



Close Ads X