Benarkah Perilaku Hewan Bisa Jadi Tanda Gempa Bumi?

Kompas.com - 20/04/2018, 20:06 WIB
Ilustrasi gempa bumi. AFPIlustrasi gempa bumi.

KOMPAS.com - Cerita tentang hewan yang berubah perilaku ketika bencana akan datang cukup umum di Indonesia. Mulai dari hewan yang turun gunung, cacing yang keluar dari tanah, atau hewan ternak yang gelisah sering diartikan sebagai salah satu tanda gempa bumi.

Namun, benarkah perilaku hewan-hewan ini bisa dijadikan patokan sebagai tanda akan terjadinya gempa bumi?

Sebenarnya berbagai penelitian telah mencoba menggali ke dalam statistik di balik perilaku hewan yang tak biasa sebelum terjadinya gempa. Sebagian besae memikirkan mekanisme yang mungkin pada dua hal ini.

Kini, sebuah penelitian terbaru mencoba menganalisis kembali data dari penelitian-penelitian sebelumnya. Peneliti yang berasal dari GFZ German Research Centre for Geosciences ini menghubungkan pengamatan pada hewan peliharaan dan ternak dengn skala dan lokasi gempa.

Baca juga: Berkaca Gempa Italia, Bagaimana Memaknai Potensi Tsunami 57 Meter?

"Banyak makalah kajian tentang potensi hewan sebagai prekusor (pertanda) gempa, tetapi sejauh pengetahuan kami, ini adalah pertama kalinya pendekatan statistik digunakan untuk mengevaluasi data," ungkap Heiko Woith, penulis utama penelitian ini dikutip dari Science Alert, Kamis (19/04/2018).

Untuk itu, Woith dan timnya mengumpulkan 180 penelitian yang menganalisis 729 laporan perilaku aneh hewan terkait dengan 160 gempa bumi. Mereka menganalisis meta-data penelitian-penelitian tersebut dengan memperhatikan rician seperti besar gempa, jarak, ativitas foreshock (gelombang sebelum gempa utama), dan kualitas penelitian tersebut.

Secara keseluruhan, para peneliti mencatat perilaku yang diamati berasal dari 130 spesies berbeda. Mulai dari anjing, sapi, bahkan ulat sutera.

Meski datanya terbilang melimpah, para peneliti menyimpulkan bank bukti ini mengalami keterbatasan kritis. Itu karena hampir semua penelitian, kecuali 14, didasrkan pengamatan tunggal.

Selain itu, tak adanya jadwal membuat mereka sulit mengevaluasi secara obyektif bagaimana perilaku khusus ini berbeda dengan perilaku normal. Ini membuat para peneliti tidak bisa menyingkirkan biar konfirmasi tentang pola perilaku.

Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam Bulletin of the Seismological Society of America ini menyarankan bahwa perilaku aneh para hewan mungkin dipengaruhi getaran awal. Dengan kata lain, hewan mungkin lebih sensitif pada getaran awal.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X