Kompas.com - 20/04/2018, 08:07 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Selain kanker hati, kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang bisa dicegah menggunakan vaksin.

Sebab, pemicu kanker ini bukanlah faktor genetik ataupun gaya hidup yang tidak sehat, melainkan karena virus Human Papiloma Virus tipe 16 dan 18.

Sayangnya, menurut dokter spesialis penyakit dalam In Harmony Clinic, Kristoforus Hendra Djaya, kesadaran untuk vaksinasi masih kurang.

Padahal, kesuksesan vaksin tersebut untuk menangkal kanker serviks mencapai 90 sampai 99 persen.

Baca juga : 10 Pertanyaan Seputar Keamanan Vaksin HPV 

"Masyarakat masih menganggap vaksin bikin mandul, osteoporosis, dan malah jadi penyakit lain," ungkap Kristo ditemui dalam Forum Ngobras bertajuk "Ayo Vaksin HPV".

Kristo menjelaskan, vaksin HPV telah dibuat semirip mungkin dengan virus, tetapi tidak memiliki DNA yang bisa mereplikasi diri, hanya selubung kulit yang kosong. Oleh karena itu, vaksin tersebut tidak akan mengubah sel di serviks menjadi sel ganas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Vaksin benar-benar hanya menangkap sel kanker yang akan masuk ke serviks, tegas Kristo.

Dengan demikian, tidak akan ada efek samping seperti yang dikhawatirkan oleh masyarakat selama ini. Apalagi selama ini belum ada penelitian ilmiah yang menghubungkan vaksin dengan kemandulan, osteoporosis, atau pun dampak lain yang ditakutkan.

Baca juga : Benarkah Vaksin HPV Sebabkan Menopause Dini?

Vaksin memang bisa menyebabkan respons dari tubuh, seperti pegal, demam, badan panas, dan pusing. Namun, itu semua hanya gejala sampingan yang masih pada tahap ringan, dan bisa hilang dengan sendirinya dalam waktu dua hari. Apabila setelah dua hari Anda masih panas, parasetamol bisa dipakai untuk meringankan.

"Justru kalau timbul efek ringan itu, tandanya vaksin sukses di tubuh. Tubuh menunjukkan reaksi bikin antibodi," tandas Kristo.

Pasalnya, jika sudah ada sel kanker yang telanjur menyerang serviks, darah tidak akan mampu mengenalinya. Sebab, sel ganas tersebut tidak mengenai pembuluh darah, hanya pada lapisan kulit epitel di serviks. "Akibatnya darah tidak akan membentuk sistem imun alami," ujar Kristo.

Oleh karena itu, vaksin HPV harus diberikan sedini mungkin, bahkan saat anak berusia sembilan tahun. Semakin cepat diberikan, risiko kanker serviks semakin bisa ditekan, kata Kristo

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.