Kompas.com - 18/04/2018, 17:07 WIB
Tirpitz dihujani bom pada tahun 1944 Tirpitz dihujani bom pada tahun 1944

KOMPAS.com — Para peneliti dari Universitas Johannes Gutenberg, Jerman, menggunakan teknik dendrokronologi untuk mengetahui kisah kapal perang Tirpitz di sebuah teluk sempit di Kåfjord di Norwegia Utara.

Kapal perang Tirpitz merupakan kapal perang milik Nazi Jerman yang paling ditakuti pasukan Sekutu. Dengan panjang sekitar 251 meter, kapal ini dianggap sebagai ancaman paling mematikan.

Oleh sebab itu, pasukan sekutu berlomba-lomba untuk segera mengancurkan kapal tersebut dalam setiap medan pertempuran, salah satunya dengan pesawat pengebom Lancester milik Inggris. Saat itu, Winston Churcill sempat dikutip mengatakan "Tidak ada target lain yang sebanding dengannya".

Baca Juga: 75 Tahun Setelah Tenggelam Kena Torpedo Jepang, Kapal AS Ditemukan

Jerman pun sadar, Tirpitz mendapat banyak ancaman dari pasukan sekutu. Langkah taktis pun dilakukan dengan menyembunyikan kapal Tirpitz di Kåfjord, Norwegia utara. Tidak hanya itu, pasukan Jerman juga menciptakan kabut buatan dengan menggunakan asam klorosulfur untuk menyamarkan Tirpitz dari musuh-musuhnya.

Namun sayang, kabut dari bahan kimia tersebut berdampak buruk pada pepohonan pinus di sekitar persembunyiannya. Para peneliti secara khusus meneliti kondisi lingkar batang pohon di sekitar Kåfjord. Metode penelitian itu disebut dendrokronologi. 

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ceritanya ada di lingkaran pohon," kata Claudia Hartl, peneliti dari Universitas Johannes Gutenberg di Jerman, kepada AFP.

"Kami membawanya ke laboratorium dan mengukur lingkaran pohon, dan melihat bahwa mereka sangat sempit, dan dalam beberapa kasus hampir tidak ada, khususnya tahun 1945," tambahnya, dikutip dari IFLScience, Kamis (12/4/2018). 

Baca Juga: Kapal Inggris Rusak 1.600 Meter Persegi Terumbu Karang Raja Ampat

Awalnya peneliti menduga kerusakan pepohonan di lokasi persembunyian Tirpitz karena serangan hama. Namun, setelah melibatkan peneliti dari daerah setempat, penyebab kerusakan pohon terungkap merupakan bahan kimia yang digunakan pasukan Jerman saat membuat kabut buatan.

Sementara itu, para peneliti menemukan beberapa pohon tidak tumbuh selama sembilan tahun setelah perang terjadi. Sejumlah pohon juga mengalami kerusakan pada bagian lingkaran pohon selama kurang lebih 30 tahun setelah Tirpitz ditenggelamkan.

Pada bulan November 1944, armada pesawat pengebom Lancaster milik Inggris mengendus persembuyian Tirpitz, dan langsung menghujani kapal tersebut dengan bom. Diduga, seribu orang tewas dalam serangan tersebut.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Buaya Raksasa dari Era Prasejarah Ditemukan di Australia, Ini Wujudnya

Buaya Raksasa dari Era Prasejarah Ditemukan di Australia, Ini Wujudnya

Oh Begitu
Misteri di Inti Bumi Miring dan Berkurangnya Panas Planet di Bawah Indonesia

Misteri di Inti Bumi Miring dan Berkurangnya Panas Planet di Bawah Indonesia

Fenomena
[POPULER SAINS] Bagaimana Atlet Bisa Kena Serangan Jantung? | Alasan Varian Delta Picu Lonjakan Kasus Covid-19

[POPULER SAINS] Bagaimana Atlet Bisa Kena Serangan Jantung? | Alasan Varian Delta Picu Lonjakan Kasus Covid-19

Oh Begitu
Gletser Darah di Pegunungan Alpen Bisa Jadi Penanda Perubahan Iklim

Gletser Darah di Pegunungan Alpen Bisa Jadi Penanda Perubahan Iklim

Oh Begitu
Isolasi Mandiri di Rumah, Ini yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Isolasi Mandiri di Rumah, Ini yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Kita
Cara Mencegah Serangan Jantung Saat Berolahraga, Ini Saran Ahli

Cara Mencegah Serangan Jantung Saat Berolahraga, Ini Saran Ahli

Oh Begitu
Wisma Atlet Hampir Penuh, Siapa Saja yang Boleh Isoman?

Wisma Atlet Hampir Penuh, Siapa Saja yang Boleh Isoman?

Kita
Akhirnya Diakui, Bumi Sekarang Punya Samudra Kelima

Akhirnya Diakui, Bumi Sekarang Punya Samudra Kelima

Fenomena
Peneliti Temukan Telur Ayam dengan Kondisi Utuh Berusia 1000 Tahun

Peneliti Temukan Telur Ayam dengan Kondisi Utuh Berusia 1000 Tahun

Oh Begitu
Alasan Hiu Karang Berselancar di Siang Hari Akhirnya Terkuak, Studi Jelaskan

Alasan Hiu Karang Berselancar di Siang Hari Akhirnya Terkuak, Studi Jelaskan

Fenomena
Ahli Jelaskan Bagaimana Varian Delta Virus Corona Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Ahli Jelaskan Bagaimana Varian Delta Virus Corona Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Oh Begitu
Sperma Tikus Bertahan 6 Tahun di ISS, Akankah Jadi Jawaban Cara Bereproduksi di Luar Angkasa?

Sperma Tikus Bertahan 6 Tahun di ISS, Akankah Jadi Jawaban Cara Bereproduksi di Luar Angkasa?

Oh Begitu
Ahli Jelaskan Bagaimana Atlet Bisa Terkena Serangan Jantung

Ahli Jelaskan Bagaimana Atlet Bisa Terkena Serangan Jantung

Oh Begitu
Varian Delta yang Menyebar di Kudus Disebut Super Strain, Ini Penjelasan Ahli

Varian Delta yang Menyebar di Kudus Disebut Super Strain, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Virus Corona Terus Bermutasi, Apakah Akan Muncul Varian Mahakuat?

Virus Corona Terus Bermutasi, Apakah Akan Muncul Varian Mahakuat?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X