Kompas.com - 04/04/2018, 18:05 WIB

KOMPAS.com — Beredar kabar yang menyatakan bahwa Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Mayor Jenderal (Mayjen) Terawan Agus Putranto dikenai pelanggaran berat berupa pencabutan rekomendasi praktik.

Selain itu, dia juga dijatuhi hukuman penonaktifan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dari 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019.

Hal ini dibenarkan Sekretaris Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Pukovisa Prawiroharjo saat dihubungi Kompas.com pada Rabu (4/4/2018).

"MKEK benar telah membuat keputusan final terkait dugaan pelanggaran etik terhadap dokter Terawan," ujarnya melalui pesan singkat.

Baca juga: Mengenal Cuci Otak yang Bikin Dokter Terawan Diberhentikan MKEK IDI

Dokter Terawan yang terkenal dengan terapi cuci otak disebut telah berperilaku melewati batas etika kedokteran.

Pelanggaran etika itu tidak sebatas dimensi praktik. Pengiklanan diri, pemujian diri sendiri, dan pelanggaran sumpah dokter juga termasuk bentuk pelanggaran etika.

Sayangnya, Pukovisa tidak merujuk secara spesifik aspek kesalahan Terawan. "Tidak bisa dijelaskan dan dibuka karena terikat etika menjaga kerahasiaan jabatan di MKEK," imbuhnya.

Tim MKEK menemukan metode penyembuhan stroke yang dipopulerkan Terawan, yakni brain washing atau cuci otak, saat menyelidiki pelanggaran etika Terawan. Temuan lain yang diperoleh adalah naskah akademik Terawan.

Baca juga: Operasi Tumor Langka pada Anak, Dokter Australia Gunakan Robot

Namun, temuan tersebut tidak mendasari keluarnya keputusan MKEK dalam memecat sementara Terawan. "Murni karena etika perilaku yang bersangkutan," tegasnya.

Sementara itu, Ketua MKEK Prijo Sidipratomo mengatakan, surat yang memuat keputusan pemecatan Terawan seharusnya bukan untuk konsumsi publik. Ia menyayangkan bocornya surat tersebut hingga menjadi viral.

Sikap yang ditunjukkan Prijo sama dengan Pukovisa, dia enggan mengungkap alasan Terawan dipecat. Namun, langkah ini disebut sebagai upaya keselamatan pasien tanpa penjelasan lanjutan.

"Tidak mungkin dijelaskan kepada publik. Ini menyangkut sumpah dokter dan kode etik kedokteran," tegasnya saat dihubungi pada Rabu (4/4/2018).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.