Krisis Air Bersih Ancam Jakarta, LIPI Usulkan 2 Solusi

Kompas.com - 23/03/2018, 08:05 WIB
Warga memancing di Kanal Banjir Barat (KBB) sungai Ciliwung di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (21/9/2017). Terbatasnya ruang terbuka hijau atau lahan bermain di pemukiman padat penduduk menyebabkan warga setempat memanfaatkan lahan kosong dipinggir sungai Ciliwung sebagai tempat bermain.
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGWarga memancing di Kanal Banjir Barat (KBB) sungai Ciliwung di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (21/9/2017). Terbatasnya ruang terbuka hijau atau lahan bermain di pemukiman padat penduduk menyebabkan warga setempat memanfaatkan lahan kosong dipinggir sungai Ciliwung sebagai tempat bermain.

KOMPAS.com - Diakui atau tidak, kondisi air tanah di Jakarta sangat kotor dan tercemar. Menurut peneliti LIPI, kondisi tersebut bisa berlanjut menjadi krisis air bersih bagi warga Jakarta.

"Bahaya pencemaran tersebut akan menjadi bencana bagi kota Jakarta itu sendiri, jika tidak segera diantisipasi," kata Anto Tri Sugiarto, Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI) LIPI, dalam keterangan persnya, Kamis (22/3/2018), di Jakarta. 

Untuk itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menawarkan dua konsep untuk mencegah bencana krisis air bersih di Jakarta dan kota-kota lainnya.

Konsep pertama adalah teknologi integrated floating wetland yang fokus terhadap pemulihan danau dan sungai.

Untuk kasus di Jakarta, konsep ini juga dilengkapi dengan integrated water management yang berfokus pada tata kelola air tanah, danau dan sungai yang saling berhubungan.

Baca Juga: BRI Pasang Mesin ATM di Dasar Laut Pahawang, Ini Kata Peneliti LIPI

Pasalnya, kondisi geologis Jakarta yang terdiri dari endapan gunung api di selatan dan endapan alluvial laut di utara membuat 13 sungai dan 55 danau, serta waduk, di Jakarta terhubung satu dengan lainnya. 

Apabila terjadi pencemaran di salah satu sumber air, tentu akan mempengaruhi sumber lainnya.

Sementara itu, konsep kedua adalah teknologi Nanobubble yang mengolah air limbah agar tidak mencemari sungai dan danau.

LIPI melakukan riset selama kurang lebih tiga tahun untuk menemukan cara memperoleh air bersih. Ilmuwan memanfaatkan teknologi yang ada, baik konvensional ataupun canggih di bidang biologi, fisika, dan kimia.

Baca juga : Limbah Pabrik Ancam Ekosistem Sungai Bengawan Solo, Ini Kata Ahli

"Tidak dapat dimungkiri, ancaman krisis air bersih tersebut membuat LIPI bergerak lebih awal untuk pengembangan penelitian terhadap sungai dan danau di Jakarta, serta di Indonesia,” kata Anto, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (22/3/2018).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X