Limbah Pabrik Ancam Ekosistem Sungai Bengawan Solo, Ini Kata Ahli

Kompas.com - 10/03/2018, 11:31 WIB
Warga menyeberang Sungai Bengawan Solo menggunakan perahu kayu dari Kelurahan Sangkrahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (21/7/2016). Menyeberangi Sungai Bengawan Solo adalah salah satu aktivitas yang ditawarkan dalam paket wisata Accor Solo Royal Heritage Cycling. KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJOWarga menyeberang Sungai Bengawan Solo menggunakan perahu kayu dari Kelurahan Sangkrahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (21/7/2016). Menyeberangi Sungai Bengawan Solo adalah salah satu aktivitas yang ditawarkan dalam paket wisata Accor Solo Royal Heritage Cycling.

KOMPAS.com - Bengawan Solo bukan sekadar judul lagu ciptaan mendiang Gesang, tetapi sudah menjadi bagian hidup masyarakat di Wonogiri hingga Gresik. Namun, sayangnya sungai dengan panjang kurang lebih 548 kilometer ini terancam oleh perkembangan industri. 

Ahli ekologi lingkungan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr Prabang Setyono, mengatakan, pencemaran di Bengawan Solo masuk kategori sedang.

" Penelitian saya lakukan bersama mahasiswa pada tahun 2017, dan secara umum statusnya tercemar sedang. Sampling saya ambil dari wilayah Solo, perbatasan Solo-Sukoharjo, dan perbatasan Solo-Sragen. Polutan logam beratnya diduga berasal dari industri dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah," katanya kepada Kompas.com, Kamis (8/3/2018).

Baca Juga: Botol Minum Ini Mampu Ubah Air Sungai Jadi Layak Konsumsi

Prabang menambahkan bahwa metode penelitian yang digunakan adalah metode STORET dan Indeks Pencemaran dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pencemaran logam berat dari pabrik ditemukan berdampak pada kerusakan ekosistem sungai.

"Kerusakan ekosistem yang terjadi adalah ikan endemik yang dulu banyak ditemukan, saat ini sudah langka atau hilang, sedangkan untuk manusia tidak terdampak selama tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Airnya mengalir sehingga polutan juga bergerak dari hulu ke hilir, ini tidak berdampak langsung pada manusia," katanya.

Kalaupun air Bengawan Solo ingin dimanfaatkan PDAM, Prabang berkata bahwa biayanya akan cukup besar untuk menetralkan air dari polusi logam berat.

Baca Juga: Viral Video Bule Berenang dengan Plastik di Lautan Bali, Ini Kata Ahli

Untungnya, pencemaran sungai bisa ditanggulangi dengan Water Treatment Screening System yang berbasis fitoremediasi.

"Intinya mengembalikan sungai seperti kondisi alami, dengan cara menanam pohon di kanan kiri sungai sehingga ikan dan biota lainnya bisa hidup dari sistem perakaran pohon tersebut atau fitoremediasi alami," kata Prabang.

Selain itu, diperlukan perubahan mental masyarakat dan kalangan industri di sepanjang sungai.

"Pencemaran itu bersifat perpasive atau selalu ada selama manusia menjadi konsumen dan produsen yang tidak ramah lingkungan," ujar Prabang.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X