Kompas.com - 19/03/2018, 19:37 WIB
Sisik ikan Sisik ikan

KOMPAS.com - Sisik ikan menjadi selama ini selalu menjadi bagian yang terbuang. Kini, peneliti dari Nanyang Technological University dan National University of Singapore berupaya memanfaatkannya sebagai pengobatan luka masa depan.

Prof. Cleo Choong, Prof. Andrew Tan, dan  Prof. Veronique Angeli memanfaatkan sisik ikan nila, ikan bass, dan ikan snakehead. Sisik ikan-ikan tersebut diketahui mengandung kolagen dalam jumlah tinggi.

Para peneliti memodifikasi kolagen pada sisik agar bisa larut dalam air. Secara alami, kolagen hanya larut pada asam. Setelah modifikasi, peneliti mengujicoba potensinya untuk pengobatan lukapada tikus.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Acta Biomaterilia menunjukkan, kolagen sisik ikan ampuh merangsang fungsi darah dan mendorong pembentukan pembuluh limfatik. Dengan demikian,  luka kemungkinan terobati karena jaringan beregenerasi.

Kolagen sisik ikan menjadi harapan baru bagi dunia biomedis. Penelitian ini menjadi langkah awal mengolah limbah akuakultur lebih bermanfaat. Untuk mendapatkan 200 miligram kolagen diperlukan 10 gram sisik ikan. Jumlah tersebut diperoleh dari satu atau dua ikan.

Ke depannya, sisik ikan berpotensi dikembangkan sebagai plester penutup luka dan dikombinasikan dengan obat-obatan yang lain. Peneliti melihat, tingkat kesembuhan luka lebih tinggi dengan kolagen sisik ikan ini.

Baca juga : Kenalkan Ikan Bermata Senter, Tak Butuh Matahari untuk Melihat

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil riset ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dipublikasikan di Journal of Materials Science: Materials in Medicine.

Dalam penelitian itu diuraikan, dibandingkan kolagen sapi, kolagen sisik ikan merangsang 2,5 kali lebih banyak sel endotel vena umbilikalis. Pembuluh darah pun terbentuk dengan baik.

Prof. Cleo Choong berkata bahwa kolagen sisik ikan juga jawaban atas perdebatan tentang penggunaan kolagen dari domba, babi dan sapi. Kolagen dari mamalia terganjal aturan agama serta risiko penularan penyakit binatang tersebut ke manusia.

“Penerapan klinis dari kolagen mamalia terhalang batasan budaya dan agama. Selain itu, perlu pemeriksaan lanjut karena risiko penularan penyakit dari mamalia ke manusia,” ujar Cleo Choong dilansir Science Daily pada Selasa (13/3/2018).

Prof. Andrew Tan menambahkan, pemberian kolagen untuk menyembuhkan luka dianggap menjanjikan. Pasalnya, ampuh untuk mengatasi cedera. Kolagen bisa dikemas dalam bermacam bentuk seperti gel, pasta, dan bubuk.

Baca juga : Minyak Ikan dan Probiotik Disarankan bagi Ibu Hamil, Ini Alasannya  

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.