Kompas.com - 14/03/2018, 20:02 WIB
Ilustrasi menstruasi ShutterstockIlustrasi menstruasi

KOMPAS.com - Darah yang dikeluarkan lewat menstruasi umumnya memang memiliki aroma yang berbeda dengan darah yang mengucur karena luka.

Pasalnya, menstruasi sendiri tidak hanya membawa darah, tetapi juga bakteri, mukus vagina, dan lapisan endometrium yang meluruh. Pencampuran ini menghasilkan aroma menstruasi yang khas.

Sayangnya, tidak sedikit wanita yang mengeluhkan bau amis pada darah menstruasi. Menurut Dokter spesialis obgyn dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Botefilia Budiman, bau amis muncul setelah kelembapan vagina berubah saat menstruasi.   

“PH alfa di vagina itu umumnya cenderung asam. Nah, darah haid itu lebih basa," ujarnya di sela-sela acara peluncuran buku saku “Sehat dan Bersih Saat Menstruasi” di Jakarta, pada Rabu (14/3/2018).

Baca juga : Lika-Liku Astronot Perempuan jika Menstruasi di Luar Angkasa

"Kelembapan basa ini yang disenangi bakteri untuk tinggal. Namun, bakteri normalnya malah tidak bisa hidup di vagina karena kelembapan berubah basa. Jadilah bau darah yang keluar amis karena adanya bacterial vaginosis,” lanjutnya.

Tingkat keasaman pH vagina saat normal sekitar 3,8-4,5. Kadar ini meningkat saat menstruasi sehingga menjadi tidak seimbang dan timbul bau amis. Inilah yang disebut vaginosis bakteri, ketika bakteri normal yang menjaga vagina kalah dengan bakteri berbau amis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bau amis dari darah menstruasi akan menyebar setelah bertemu dengan udara. Kendati bisa hilang dengan sendirinya, perempuan acapkali merasa tidak nyaman dengan aroma yang tercium.

Baca juga : Menstruasi Bikin Perempuan Berubah? Penelitian Terbaru Membantahnya

Botefilia melanjutkan, bau amis ini bisa diatasi dengan penggunaan antiseptik. Antiseptik menumpas bakteri yang seharusnya tidak menghuni vagina.

Selain itu, pembalut juga harus sering diganti agar darah yang terkumpul tidak merangsang datangnya banyak bakteri baru dan membuat bau menstruasi semakin menyengat.

“Biar menstruasi tidak berbau amis dan menjadi infeksi genetalia, para perempuan sebaiknya mengganti pembalut tiap tiga hingga enam jam sekali,” imbuh Botefilia.

Apabila vagina masih tetap berbau amis meski periode haid telah usai, ia meminta para perempuan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Ini untuk mengetahui apakah ada penyakit yang menyertai atau tidak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.