Kompas.com - 02/03/2018, 21:35 WIB
Sally Ride astronot perempuan Amerika pertama yang pergi ke luar angkasa pada tahun 1983 science alertSally Ride astronot perempuan Amerika pertama yang pergi ke luar angkasa pada tahun 1983

KOMPAS.com - Momen pendaratan manusia di bulan menjadi tonggak sejarah umat manusia melakukan perjalanan ke luar angkasa. Dalam perkembangannya, misi perjalanan ke luar bumi pun tidak lagi didominasi oleh astronot laki-laki.

Astronot perempuan juga ikut ambil bagian di dalamnya, seperti yang dibuktikan Sally Ride ketika menjadi astronot perempuan Amerika pertama yang pergi ke luar angkasa pada tahun 1983.

Sejak itu pula, lahir pertanyaan menyangkut kiprah perempuan di luar angkasa. Salah satunya adalah soal siklus bulanan atau menstruasi yang harus dilalui oleh seorang perempuan.

Saat menjalankan misi pertamanya, Ride membawa serta 100 pembalut untuk persediaan selama satu minggu. Hal ini dilakukannya meski awalnya, staf medis NASA tak yakin bagaimana mikro gravitasi akan berpengaruh pada menstruasi, apakah darah akan mengalir seperti seharusnya ataukah mengalir kembali ke rahim dan menyebabkan masalah kesehatan.

Baca juga : Wanita Ini Menstruasi Selama 5 Tahun Tanpa Henti 

Ternyata, menstruasi di luar angkasa tidak jauh berbeda dibanding di bumi dengan catatan misi dijalankan dalam durasi pendek. Lain cerita jika astronot melakukan misi dalam waktu yang lama, seperti ke mars.

Pasalnya, sistem pembuangan limbah di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) tidak dirancang untuk mengelola darah menstruasi. Sistem toilet ini terhubung ke sistem reklamasi air yang mendaur ulang air kencing menjadi air minum.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, kebersihan pribadi kurang ideal di luar angkasa karena persediaan air yang terbatas sehingga saat menstruasi tidak sepraktis seperti di Bumi.

Lalu, apa yang dilakukan para astronot ini untuk mencegah datang bulan. Sebuah makalah baru dalam jurnal Microgravity membeberkan jika astronot perempuan ini memilih kontrasepsi sebagai jalan tengah untuk melewatkan jadwal menstruasi mereka selama di luar angkasa.

Paling umum yang penggunaan pil progesteron oral. Pilihan kedua yang paling populer adalah IUD, alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim oleh dokter dan dapat bertahan selama tiga sampai lima tahun. Implan subdermal juga jadi pilihan lainn karena aman digunakan hingga tiga tahun.

Terakhir adalah suntikan Depo-Provera, suntikan hormon yang mirip dengan progesteron. Suntikan ini harus diberikan setiap 12 minggu sekali dan bisa digunakan dengan aman selama 2-3 tahun.

Baca juga : Mengapa Alat Kontrasepsi Pria Tak Sebanyak Wanita?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.