Ahli Temukan Lima Tipe Diabetes Berbeda, Bukan Hanya Tipe 1 dan Tipe 2

Kompas.com - 02/03/2018, 19:31 WIB
ilustrasi ilustrasi


KOMPAS.com - Diabetes adalah salah satu penyakit ganas yang  sudah mematikan jutaan nyawa.

Selama ini kita mengenal ada dua tipe diabetes. Diabetes tipe 1 dikenal sebagai penyakit diabetes autoimun yang tidak dapat disembuhkan.

Diabetes tipe 2 disebut sebagai diabetes yang paling banyak dialami dan masih dapat diatasi asal pengidap mau mengubah gaya hidup lewat olahraga rutin dan mengonsumsi makanan sehat.

Kini, para ilmuwan sudah merevisi tipe penyakit diabetes. Mereka menyebut sebenarnya ada lima tipe diabetes berbeda.

Baca juga : Bukan Gen, Inilah Pemicu Utama Komplikasi Diabetes Mikrovaskular

Dalam laporan yang diterbitkan jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology, kelima tipe diabetes tadi memiliki karakteristik dan komplikasi yang berbeda.

Ini berarti setiap pasien diabetes tidak bisa disamakan pengobatannya karena masing-masing memiliki kebutuhan berbeda.

"Diagnosis diabetes yang akurat memungkinkan kita untuk mengobati dengan lebih tepat agar tidak terjadi komplikasi sebelum berkembang," kata ahli endokrinologi Profesor Leif Groop dari Lund University Diabetes Center (LUDC), Swedia Groop dilansir Express, Kamis (1/3/2018).

Ia mengatakan bahwa pedoman pengobatan yang ada saat ini tidak dapat merespons metabolik dengan baik dan belum ada alat yang mumpuni untuk memprediksi pasien mana yang harus mendapat perawatan intensif.

Dr Emily Burns, Kepala Riset Komunikasi berkata bahwa tipe 1 dan tipe 2 diabetes adalah penyakit yang sangat berbeda, namun para ahli belum cukup mengetahui subtipe yang ada di dalamnya.

"Menemukan subtipe akan membantu kami dalam menentukan perawatan dan bisa mengurangi risiko komplikasi terkait diabetes di masa depan," kata Burns.

Penyakit diabetes menjadi salah satu penyakit yang meningkat secara signifikan di seluruh dunia.

Namun, klasifikasi diabetes secara medis belum diperbarui selama 20 tahun terakhir dan masih mengandalkan pengukuran kadar glukosa darah untuk mendiagnosisnya.

Diabetes tipe 1 umumnya didiagnosis pada masa anak-anak dan penyebabnya tubuh sama sekali tidak memproduksi insulin, hormon yang membantu mengatur kadar gula darah.

Diabetes tipe 2 terjadi saat tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat setelah terjadi obesitas dan resistensi insulin. Ini berarti glukosa tetap berada dalam darah.

Sekitar 75-85 persen orang yang didiagnosis dengan diabetes masuk dalam tipe 2. Sebenarnya diabetes tipe 2 sangat bervariasi, hanya saja tidak dieksplorasi perbedaannya.

Sebab itu, peneliti memantau 14.775 pasien asal Swedia dan Finlandia berusia 18-97 tahun yang baru saja didiagnosis diabetes.

Mereka menganalisis responden meliputi pengukuran resistensi insulin, sekresi insulin, kadar gula darah, usia, dan gejala penyakit.

Para peneliti juga menganalisis genetik dan membandingkan perkembangan penyakit, pengobatan, dan komplikasi diabetes untuk setiap jenisnya.

Baca juga : Peneliti Ungkap Menyusui Selama 6 Bulan Turunkan Risiko Diabetes

Hasilnya ditemukan ada lima tipe diabetes berbeda. Tiga di antaranya parah dan dua ringan.

Pertama mari kita bahas ketiga kelompok diabetes yang parah.

Kelompok parah pertama memiliki resistensi insulin berat yang berisiko jauh lebih tinggi terkena penyakit ginjal.

"Kelompok ini yang paling beruntung dengan revisi klasifikasi tipe diabetes yang baru, sebab merekalah yang penanganannya tidak tepat," kata Groop dilansir Telegraph, Jumat (2/3/2018).

Kelompok parah kedua, kekurangan insulin dengan kontrol metabolik buruk namun tidak memiliki auto antibodi.

Kelompok parah ketiga, insulin pada pasien kurang dan memiliki antibodi autoimun yang terkait dengan diabetes autoimun. Ini merupakan bentuk diabetes yang sebelumnya disebut sebagai diabetes tipe 1 atau diabetes autoimun laten pada orang dewasa.

Dua kelompok lainnya termasuk lebih ringan. Salah satunya mereka yang terkena diabetes terkait dengan usia lanjut dan kelompok ringan lainnya karena obesitas.

Kelima tipe diabetes ini berbeda secara genetis tanpa mutasi yang terkait dengan semua jenis penyakit. Sebab itu, kelimanya juga memiliki tahapan penyakit yang berbeda.

"Diperlukan perawatan dini untuk mencegah komplikasi pada pasien yang paling berisiko terkena dampaknya," kata pemimpin penulis Emma Ahlqvist, seorang profesor di Universitas Lund.

Lewat penelitian ini para peneliti berharap ada studi lebih lanjut yang membahas perbedaan dan perawatan yang lebih tepat untuk setiap penyakit segera ditemukan.

Baca juga : Jangan Remehkan Kesepian! Dampaknya Bisa Picu Diabetes Tipe 2

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ratusan Gajah Afrika Mati Mendadak, Ahli Konservasi Indonesia Ingatkan Soal Virus Herpes

Ratusan Gajah Afrika Mati Mendadak, Ahli Konservasi Indonesia Ingatkan Soal Virus Herpes

Fenomena
Fenomena Langka, Dua Planet Raksasa Menari Bersama di Luar Angkasa

Fenomena Langka, Dua Planet Raksasa Menari Bersama di Luar Angkasa

Fenomena
Kasus Corona Indonesia Tak Seburuk Prediksi, Diduga karena Vaksinasi

Kasus Corona Indonesia Tak Seburuk Prediksi, Diduga karena Vaksinasi

Kita
Umur Anjing Ternyata Lebih Tua dari Pemiliknya, Studi ini Jelaskan

Umur Anjing Ternyata Lebih Tua dari Pemiliknya, Studi ini Jelaskan

Fenomena
Mengapa Vaksinasi Berkaitan dengan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia?

Mengapa Vaksinasi Berkaitan dengan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia?

Oh Begitu
Studi Ungkap Cara Virus Corona Langsung Infeksi Sel Jantung Pasien Covid-19

Studi Ungkap Cara Virus Corona Langsung Infeksi Sel Jantung Pasien Covid-19

Fenomena
Harga Vaksin Corona Diperkirakan Rp 75.000 Per Orang, Kapan Siap?

Harga Vaksin Corona Diperkirakan Rp 75.000 Per Orang, Kapan Siap?

Oh Begitu
Ilmuwan Buktikan Lagi, Virus Corona Saat Ini Lebih Menular dan Beda dari Aslinya

Ilmuwan Buktikan Lagi, Virus Corona Saat Ini Lebih Menular dan Beda dari Aslinya

Fenomena
Seberapa Jauh Anjing Bisa Mencium dan Mendengar?

Seberapa Jauh Anjing Bisa Mencium dan Mendengar?

Prof Cilik
Vaksin Bikin Autis? 3 Mitos Vaksinasi Anak yang Tak Usah Dipercaya

Vaksin Bikin Autis? 3 Mitos Vaksinasi Anak yang Tak Usah Dipercaya

Kita
Hati-hati, Gangguan Gigi dan Mulut Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Hati-hati, Gangguan Gigi dan Mulut Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Oh Begitu
3 Nyamuk Penyebar Mosquito-borne Disease: Aedes Aegypti, Anopheles, dan Culex

3 Nyamuk Penyebar Mosquito-borne Disease: Aedes Aegypti, Anopheles, dan Culex

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Mengapa Banyak Virus pada Hewan Menular ke Manusia?

[VIDEO] Tanya Dokter: Mengapa Banyak Virus pada Hewan Menular ke Manusia?

Oh Begitu
Jangan Lupakan, Penularan Penyakit karena Nyamuk Masih Terus Terjadi

Jangan Lupakan, Penularan Penyakit karena Nyamuk Masih Terus Terjadi

Kita
Jamur Cordyceps Militaris Disinyalir Punya Antivirus, Apa Saja Manfaatnya?

Jamur Cordyceps Militaris Disinyalir Punya Antivirus, Apa Saja Manfaatnya?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X