Kompas.com - 01/03/2018, 12:37 WIB
Pengunjung melihat tanaman anggrek di dalam rumah kaca Griya Anggrek di kompleks Kebun Raya Bogor, Jumat (12/7/2013). Di tempat tersebut terdapat ratusan anggrek spesies asli Indonesia yang dapat dijadikan sarana belajar mengenal keanekaragaman hayati nusantara. KOMPAS/IWAN SETIYAWANPengunjung melihat tanaman anggrek di dalam rumah kaca Griya Anggrek di kompleks Kebun Raya Bogor, Jumat (12/7/2013). Di tempat tersebut terdapat ratusan anggrek spesies asli Indonesia yang dapat dijadikan sarana belajar mengenal keanekaragaman hayati nusantara.

KOMPAS.com -- Joko Ridho Witono, peneliti utama bidang botani Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) mengakui bahwa dari sisi inovasi, kebun raya di Indonesia masih tertinggal dengan negara tetangga.

Untuk itu, pihaknya dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya mencoba mempersolek Kebun Raya Bogor.

"Dalam waktu dekat, tim manajemen akan merevitalisasi taman tematik bambu di dekat kantor Kebun Raya Bogor. Selama ini, kesannya tidak tertata dan banyak nyamuk," ujarnya saat dihubungi Kompas.com pada Rabu (28/2/2018).

Langkah revitalisasi meliputi pembangunan bangku taman dan pembuatan jalan setapak. Selain itu, Kebun Raya Bogor akan melengkapi koleksi tanaman obat yang ada. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang kaya akan rempah-rempah.

Baca juga : Kebun Raya Punya 5 Fungsi, Apa Sajakah Itu?

Joko juga berkata bahwa anggrek yang ditempatkan di dalam rumah kaca juga akan ditata supaya tidak terlihat berjejal penuh. Tim manajemen merancang ulang rumah kaca supaya masyarakat yang berkunjung lebih nyaman mempelajari keanekaragaman anggrek yang ada.

Tidak menutup mata dengan perkembangan teknologi, pihak manajemen mulai memikirkan pembaruan yang menyesuaikan zaman supaya masyarakat tidak hanya berkunjung, jalan-jalan, dan berswafoto.

"Kami juga bikin aplikasi jelajah kebun raya yang bisa diunduh lewat (Google) Play Store. Lewat itu, masyarakat bisa mengetahui potensi dan manfaat tanaman yang ada di Kebun Raya," katanya.

Tim manajemen Kebun Raya Bogor, kata Joko, tengah melengkapi setiap tanaman dengan informasi yang terbaca pengunjung. Masyarakat diharapkan juga bisa memetik pengetahuan baru setelah kunjungan ke kebun raya.

Untuk menambah pengalaman baru bagi pengunjung yang datang, pihak Kebun Raya Bogor menyediakan program wisata flora. Joko mengatakan, semua info kegiatan sudah dicantumkan di website untuk memudahkan pengunjung mencari info.

Baca juga : Kebun Raya Indonesia Tonjolkan Tanaman Obat dan Lokal

"Menurut saya, keunggulan Kebun Raya Bogor justru pada tanaman tuanya, sehingga tidak bisa kita katakan negara lain misalnya, Singapura, lebih bagus. Kebun Raya Bogor mungkin lebih disenangi orang yang naturalis, suka alam yang asri," ujarnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Kita
Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Oh Begitu
Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Oh Begitu
Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Oh Begitu
Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Fenomena
Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Oh Begitu
Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Oh Begitu
Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Oh Begitu
Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Fenomena
Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.