Bagaimana Resistensi Antibiotik Bisa Terjadi?

Kompas.com - 28/02/2018, 17:36 WIB
Ilustrasi Ilustrasi

KOMPAS.com -- Hari Paraton, Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba berkata dalam simposium nasional “More Protection, Less Antimicrobial” di Jakarta, Selasa (27/2/2018) bahwa  antibiotik bukan obat yang mampu menyembuhkan segala penyakit.

Untuk itu, masyarakat patut hati-hati saat diberikan antibiotik oleh dokter. Pasalnya, apabila digunakan secara tidak tepat, antibiotik justru bisa menimbulkan resistensi antibiotik.

Resistensi antibiotik terjadi ketika seseorang mengonsumsi antibiotik tanpa mengikuti aturan yang dianjurkan dokter. Pasien, sebut Hari, tidak mematuhi takaran obat yang harus diminum, jadwal waktu obat tersebut dikonsumsi, dan panjangnya periode obat tersebut harus dihabiskan.

Selain itu, resistensi antibiotik juga bisa karena jumlahnya terlalu banyak atau terlalu kerap diminum.

Baca juga : Anda Harus Tahu, Antibiotik Tidak Sembuhkan Semua Penyakit

“Misalnya, seseorang yang terlalu sering minum antibiotik di luar rumah sakit. Saat masuk rumah sakit lalu diterapi dengan antibiotik, bakteri penyebab penyakit justru berulah. Bakteri normal floranya mati semua. Bakteri jahat justru tumbuh,” ujarnya.

Flora normal merupakan kumpulan organisme yang menghuni organ tertentu di tubuh manusia. Umumnya, flora normal beranggotakan bakteri baik yang menjaga organ tersebut.

Jika antibiotik diberikan secara serampangan, maka bakteri baik ini ikut terbunuh. Padahal, tubuh manusia membutuhkan kehadiran bakteri baik sebanyak 90.000 triliun hingga 100.000 triliun untuk dikatakan sehat.

Akibatnya, tubuh individu mengalami infeksi yang semakin parah. Bakteri jahat justru berkembang biak secara pesat.

Baca juga : Jadilah Pasien Kritis, Tanyakan ke Dokter Tiap Kali Terima Antibiotik

Hari menyebut, dalam kondisi terburuk, antibiotik sama sekali tidak bisa membunuh bakteri pencetus penyakit. Kondisi ini dinamakan pan-resistance. Resistensi jenis ini terjadi di rumah sakit dengan persentase 3-5 persen.

“Resistensi antibiotik ini berbahaya. Saya pernah menemukan kasus infeksi yang disebabkan resistensi antibiotik. Pasien terlama ini, sampai harus rawat inap 162 hari. Ada juga sih yang rawat inap dua hingga tiga hari. Jangka waktunya pendek, ya? Singkat karena langsung meninggal besoknya,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X