Hanya Mitos, Dokter Tegaskan Santan Tidak Mengandung Kolesterol

Kompas.com - 23/02/2018, 20:36 WIB
Ilustrasi santan alicjaneIlustrasi santan

KOMPAS.com — Salah satu hal menarik yang diungkapkan dr Diana Suganda SpGK, spesialis gizi dari Rumah Sakit Pondok Indah, dalam artikel Kompas.com, Senin (29/1/2018), mengenai durian adalah fakta bahwa buah-buahan tidak mengandung kolesterol.

Pernyataan ini membuat banyak pembaca bingung. Bila kelapa yang tergolong buah tidak mengandung kolesterol, kok bisa santan disebut-sebut mengandung kolesterol?

Ternyata, ini juga mitos belaka. Disampaikannya kepada Kompas.com melalui pesan elektronik yang diterima pada Kamis (22/2/2018), Diana menegaskan bahwa santan tidak mengandung kolesterol.

Baca juga: Jangan Percaya Mitos, Durian Tidak Mengandung Kolesterol

Dalam 100 gram santan terdapat 230 kalori; 2,29 gram protein; 5,54 gram karbohidrat; 15 miligram sodium; 263 miligram kalium; 21,14 gram lemak jenuh; 0,261 gram lemak tak jenuh ganda; 1,014 gram lemak tak jenuh tunggal; dan 0 miligram kolesterol.

dr Diana Suganda, SpGK Informasi gizi dari santan

Kesalahpahaman ini, ujar Diana, mungkin berasal dari tingginya kandungan lemak jenuh di dalam santan yang mencapai 21 persen.

Santan tidak mengandung kolesterol, tapi santan mengandung lemak jenuh (saturated fat) yang tinggi, yaitu sebanyak 21 gram per 100 gram santan. Mungkin orang sering salah kaprah menganggap lemak tadi sebagai kolesterol, padahal itu merupakan hal yang berbeda,” ujarnya.

Baca juga: Daging Kambing Aslinya Sehat, yang Tak Sehat adalah Garam Berlebihnya

Selain kadar lemak jenuh yang tinggi, kandungan kalori yang mencapai 230 kalori per 100 gram juga membuat santan harus dikonsumsi secara hati-hati. Sebab, konsumsi santan yang berlebihan dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko obesitas.

Namun, santan tidak melulu jelek. Diana berkata bahwa santan juga mengandung asam laurat (lauric acid) yang merupakan asam lemak rantai sedang. Dapat digunakan sebagai sumber energi, asam lemak dalam santan ini sebenarnya masih diperlukan tubuh walaupun dalam jumlah sedikit.

Takaran saji yang direkomendasikan oleh dokter spesialis gizi ini hanya seperempat hingga setengah cangkir. Sebagai subtitusi, Anda juga bisa menggunakan susu segar atau susu UHT dalam memasak.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X