Kompas.com - 18/02/2018, 20:49 WIB
ilustrasi berlari ilustrasi berlari

KOMPAS.com - Berlari, selain menyehatkan bagi tubuh, ternyata punya dampak baik bagi memori otak.

Sebuah percobaan dilakukan para peneliti di Universitas Brigham Young (BYU) membuktikan bahwa memori tetap terjaga berkat kegemaran berlari. Apalagi jika aktivitas berlari dilakukan saat seseorang tengah mengalami stres.

Para peneliti menggunakan tikus sebagai sampel eksperimen ini.

Tikus dikelompokan menjadi dua. Pertama adalah kelompok tikus yang secara rutin selama empat pekan aktif mengitari roda putar. Umumnya, tikus kelompok dipacu berlari sejauh 4,5 kilometer per hari.  Sedangkan kelompok kedua, tidak diminta berlari teratur, hanya meringkuk di kandang.

Selanjutnya, tikus-tikus tersebut dihadapkan dengan tekanan yang tak menyenangkan. Mereka dipaksa untuk merayap pada ketinggian atau berenang di air dingin. Selama satu jam, tikus dihadapkan pada situasi stres tersebut.

Baca juga : Kompres Panas atau Dingin, Mana yang Cocok untuk Keram Saat Lari?

Setelahnya, peneliti melihat kadar long term-potentiation (LTP) di otak para tikus melalui tes elektrofisiologi. Hasilnya, dalam keadaan tertekan, tingkat LTP pada tikus yang rajin bergerak mengelilingi roda putar lebih tinggi dibandingkan tikus yang pasif berlari. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika dijajal untuk menembus sekat labirin yang pernah dilalui, tikus yang aktif bergerak punya daya ingat lebih tinggi dalam mengingat rute. Tikus yang hanya berdiam diri selama empat pekan, mencetak kesalahan lebih besar.

Eksperimen tersebut membuktikan bahwa berlari dan olahraga menjadi cara termudah untuk mencegah menurunnya memori pada otak ketika individu tengah dihantui stres.

Stres memicu berkurangnya kekuatan sinapsis. Akibatnya, memori ikut melemah. Padahal waktu terbaik untuk mengekalkan ingatan adalah saat sinaps menguat. Sinapsis merupakan penghubung antar neuron. Proses penguatan sinaptik ini disebut LTP.

“Berolahraga (berlari) merupakan cara sederhana dan hemat biaya untuk menekan dampak negatif stres terhadap daya ingat,” kata Jeff Edwards, profesor fisiologi dan biologi di BYU seperti yang dilansir dari laman Psychcentral pada Sabtu (17/2/2018).

Berlari diyakini menangkal efek negatif stres.  Dengan kata lain, berlari berimbas positif pada hippocampus, area otak yang berperan dalam pembelajaran dan memori. LTP dalam hippocampus tidak menyusut, bahkan tetap normal kendati seseorang terserang stres.

Baca juga : Joging Boleh, Lari Jangan, Apa Sebenarnya Maksud Para Dokter?

 

 

 

 

 

 

 
 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.