"Sengsu", Tongseng Jamu, dan Kenyataan Bahayanya

Kompas.com - 07/02/2018, 17:00 WIB
Para aktivis membawa serta anjing peliharaan mereka, menginginkan diakhirinya konsumsi daging anjing. AP PHOTO via BBCPara aktivis membawa serta anjing peliharaan mereka, menginginkan diakhirinya konsumsi daging anjing.

KOMPAS.com -Sukardi, salah satu pemilik warung daging anjing di Surakarta, menuturkan banyak warga yang makan daging anjing untuk menyembuhkan penyakit.

Dia menjelaskan bahwa banyak pelanggan yang mengalami gatal-gatal dan sesak nafas mengaku sembuh setelah makan daging anjing.

"Ada juga kok yang anaknya sakit panas, terus dibuatkan sop dari tulangnya agar sembuh. Tapi yang sering sakit gatal-gatal," kata Sukardi kepada Kompas.com, Selasa (6/2/2018).   

Di wilayah Surakarta dan Yogyakarta, daging anjing memang dikenal bisa menyembuhkan penyakit.

Salah satu masakan daging anjing populer adalah sengsu alias tongseng asu/anjing. Sejumlah warung menyebutnya tongseng jamu.

Setiap 100 gr daging anjing mengandung energi sebesar 198 Kkal, protein 24,6 gr, lemak 10,5 gr dan karbohidrat 0,9 gr.

Namun hingga saat ini, belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa daging memang berkhasiat.

Ketika tak ada bukti, drh. Sunarto, M.Si, dosen Fakultas Peternakan Universitas Sebelas Maret Surakarta, justru mengungkapkan bahaya konsumsi daging anjing.

Baca Juga: Mengapa Anjing Suka Makan Kotorannya Sendiri?

Berbeda dengan kambing, sapi, dan babi, anjing yang dikonsumsi masyarakat tidak bersumber dari peternakan. Makhluk hidup yang diternakkan harus memenuhi beberapa syarat.

"Harus melalui beberapa prosedur untuk menjamin kesehatan hewan misalnya harus mendapat vaksin secara teratur, pengawasan yang ketat," katanya.

Sunarto mengatakan bahwa hingga saat ini yang menjadi kekhawatiran adalah penyakit rabies pada anjing.

Karena tak bersumber dari peternakan, maka daging anjing punya potensi besar menularkan rabies maupun penyakit lainnya.

Dr. Tirta Prawita Sari, Msc, SpGK, ahli gizi di RS. Pondok Indah, Jakarta, mengatakan rawan bagi kesehatan apabila makan daging dari hewan yang pengawasan kesehatannya kurang.

"Secara umum tentang kandungan gizi pada semua daging adalah sama, yaitu protein. Namun selain itu perlu juga memperhatikan kesehatan hewan, karena di dalam kandungan daging hewan yang tidak sehat akan banyak terdapat parasit, bakteri bahkan virus," kata Tirta kepada Kompas.com, Selasa (6/2/2018).

Sementara itu, Anisa Ratna Kurnia, aktivis dari Garda Satwa Indonesia, mengatakan, "Tidak ada anjing yang layak dikonsumsi. Kalau mereka dianggap layak, sudah pasti ada pengawasan dari dinas peternakan. Seharusnya pemerintah menanggapi serius masalah peredaran daging anjing ini, karena menyangkut kesehatan masyarakat."

Baca Juga: Pertama di Dunia, Operasi Otak untuk Anjing Laut Pengidap Hidrosefalus

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X