Aritmia, Penyakit Serius yang Dokter Spesialisnya Hanya 26 Orang

Kompas.com - 25/01/2018, 08:05 WIB
Ilustrasi jantung yodiyimIlustrasi jantung
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Masih ingat dengan Bondan Winarno? Mantan jurnalis yang lebih dikenal sebagai presenter acara kuliner itu meninggal di penghujung tahun 2017.

Pria yang populer dengan slogan “maknyus” ini mendapati kelainan irama denyut jantung yang dalam dunia medis, disebut aritmia.

Tanpa Anda perintah, jantung bekerja memompa darah karena memiliki sistem otomatisisasi listrik. Hal ini dimungkinkan berkat alat pacu jatung alami yang disebut dengan nodus sinoatrial.

Dari segi kecepatannya, aritmia terbagi menjadi dua garis besar. Bradiaritmia, detak jantung terlalu lambat dengan perhitungan 60 kali per menit (kpm); dan takiaritmia, detak jantung terlalu cepat lebih dari 100 kpm.

Aritmia yang paling sering terjadi adalah fibrilasi atrial (AF). Prevalensi AF di Indonesia sebesar 2,2 juta orang, dan 40 persen di antaranya mengalami stroke.

Baca juga : Mengenal Aritmia lewat Kasus Kematian Bondan Winarno

Gejala yang paling umum adanya jantung yang berdebar dengan rasa tak nyaman, serta gerakan di sekitar dada. Selain itu, gejala lainnya adalah merasa lelah hingga tak bertenaga, nafas pendek, rasa sesak di dada, pingsan, sering buang air kecil, dan sulit melakukan aktivitas sehari-hari.

“Kalau orang sakit jantung terus mati mendadak, itu cara matinya kena aritmia. 91 persen mati mendadak itu karena artimia. Penyebab dasarnya penyakit jantung koroner, tetapi cara matinya aritmia,” kata dokter spesialis aritmia Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K) dalam konferensi pers di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta, Rabu (24/1/2018).

Namun, banyaknya pengidap aritmia ternyata tak berbanding lurus dengan dokter spesialis yang memahami bidang tersebut. Fakta ini menjadi ironi bidang kesehatan di negara berkembang, ditambah minimnya infrastruktur untuk mengobati pasien.

Hingga tahun 1999, Indonesia hanya memilik satu orang spesialis aritmia, DR.dr. M. Munawar, Sp JP (K). Lalu, pada sekitar tahun 2000, Yoga menjadi dokter aritmia kedua. Sejak saat itu tak ada penambahan personel baru hingga tahun 2006. Beberapa tahun kemudian Dr. Dicky Armein Hanafy, SpJP (K), FIHA menjadi ahli aritmia berikutnya.

Baca juga : Penyakit Jantung Bawaan Bisa Terjadi Meski Orangtua Sudah Hidup Sehat

“Hingga saat ini hanya ada 26 dokter ahli aritmia. Kenapa begitu? Ada istilah tak kenal maka tak sayang yang membuat aritmia kurang diminati,” kata Yoga.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X