Kompas.com - 17/01/2018, 07:07 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Tubercolosis (TBC) menjadi penyakit menular yang banyak menyebabkan kematian di Indonesia. Pada tahun 2016, terdapat 274 kasus kematian per hari di Indonesia.

Pada tahun yang sama, kasus TBC baru mencapai 1.020.000 pengidap. Angka itu menjadikan Indonesia berada di peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Kemudian, disusul oleh China, Filipina, Pakistan, Nigeria, dan Afrika selatan.

Dokter spesialis paru Rumah Sakit Pusat Persahabatan Dr dr Erlina Burhan SpP(K), MSc mengatakan, TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. 85 persen infeksi menyerang paru-paru.

“Bisa juga ke jantung, ginjal, dan tulang. Pengidap TBC terjadi pada usia produktif,” kata Erlina dalam acara “Talkshow Kesehatan tentang TBC” di kantor pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia (PPTI), Jakarta, Salasa (16/1/2018).

Baca juga : Dalam Pengobatan TBC, Ibu Tetap Bisa Menyusui

TBC pada paru ditandai dengan durasi batuk berdahak lebih dari dua minggu. Jika sudah meluas, pengidap TBC paru akan mengalami sesak nafas. Batuk disertai darah juga akan muncul jika pembuluh darah pecah.

“Kalau menyerang tulang, timbul rasa nyeri seperti nyerti di pinggang. Tulang juga bisa bengkok. Jika TBC paru terkena pada ibu hamil, secara teori bisa berpengaruh ke janin. Janin kekurangan oksigen, berat badannya rendah ketika lahir, dan stunting (pertumbuhan yang terhambat),” ucap Erlina.

Erlina menuturkan, terdapat gejala umum yang dapat terjadi di semua jenis TBC, antara lain demam yang hilang timbul, hilangnya nafsu makan, hingga penurunan berat badan.

Penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis terjadi melalui percikan air seperti saat batuk dan bersin. Untungnya, bakteri akan mati bila terkena sinar matahari.

Baca juga : Akankah Semua Perokok Terkena Kanker Paru? Dokter Menjawab

“Kuman akan berkembang biak di tempat yang lembap. Kalau rumah punya ventilasi bagus, itu bakteri akan keluar lewat jendela dan kalau kena sinar matahari, bakterinya mati,” kata Erlina.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang masuk ke tubuh seseorang menjadi TBC laten. Bakteri itu akan berdiam diri dan tak menimbulkan gejala. Mereka baru akan aktif bila sistem imunitas melemah.

Untuk mengetahui ada tidaknya TBC laten, pemeriksaan dapat dilakukan melalui tes Mantoux atau pun tes IGRA (interferon-gamma release assays). Pemeriksaan TBC laten lebih ditujukan kepada orang dengan sistem imunitas lemah atau pernah melakukan kontak dengan pengidap.

“Contohnya anak pada usia di bawah 5 tahun mudah jadi aktif jika tidak diobati. (Juga) pengidap HIV, pengidap kanker yang menjalani kemoterapi, pasien rematik,” ujar Erlina.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Oh Begitu
Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Oh Begitu
Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Kita
Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Oh Begitu
Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Prof Cilik
Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Oh Begitu
Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Oh Begitu
Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Oh Begitu
Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Oh Begitu
Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Oh Begitu
Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Oh Begitu
Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Kita
5 Objek Paling Terang di Tata Surya

5 Objek Paling Terang di Tata Surya

Oh Begitu
Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Fenomena
Trenggiling Makan Apa?

Trenggiling Makan Apa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.