Mungkinkah Sepasang Manusia Jadi Nenek Moyang Semua Manusia Bumi? - Kompas.com

Mungkinkah Sepasang Manusia Jadi Nenek Moyang Semua Manusia Bumi?

Kompas.com - 03/01/2018, 20:39 WIB
Ilustrasi planet Bumi.Shutterstock Ilustrasi planet Bumi.

KOMPAS.com — Mari kita berimajinasi. Andai saja kiamat terjadi saat ini dan hanya menyisakan laki-laki dan perempuan terakhir di dunia, mungkinkah pasangan tersebut bisa mengembalikan populasi planet seperti semula?

Pertama, yang perlu diketahui adalah generasi pertama yang akan lahir merupakan kakak beradik. Kelangsungan keturunan mereka selanjutnya pun tergantung pada perkawinan sedarah.

Padahal, beberapa penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak keturunan dari perkawinan sedarah cenderung mengalami perkembangan yang tidak baik.

Untuk memahami mengapa perkawinan sedarah bisa sangat mematikan, kita perlu mengerti cara kerja genetika.

Baca juga: Jangan Salah, Manusia Prasejarah Sudah Paham Bahaya Perkawinan Sedarah 

Manusia memiliki dua salinan dari setiap gen, masing-masing dari setiap orangtuanya. Saat pasangan yang saling terkait hubungan darah memproduksi keturunan, terjadi mutasi resesif pada genom mereka.

Seperti yang terjadi pada penduduk Pingelap, di mana seluruh populasinya hanya berasal dari 20 orang saja.

Pada abad ke-18, angin topan menyapu pulau tersebut dan menyebabkan hampir seluruh penduduknya meninggal. Hanya ada 20 orang yang selamat, termasuk seorang pembawa gen akromatopsia atau kelainan yang menyebabkan buta warna.

Dengan kolam gen sekecil itu, mayoritas populasi di pulau tersebut menjadi buta warna.

Selain itu, ada juga kasus yang terjadi pada anak-anak di Ceko yang lahir antara tahun 1933-1970. Mereka dilahirkan dari orangtua yang memiliki kedekatan hubungan darah sehingga mayoritas mengalami cacat fisik dan mental, serta mengalami tingkat kematian yang cukup tinggi.

Baca juga: Bagaimana Cara Sperma Berenang Menuju Sel Telur? 

Masih banyak kasus yang terjadi, tetapi yang jelas masalah utamanya terletak pada variasi gen yang terbatas.

"Dengan jumlah populasi yang kecil, semua orang akan segera saling terhubung, cepat atau lambat. Keterkaitan itu meningkatkan efek kawin sedarah," ujar Dr Bruce Robertson, peneliti dari Universitas Otago dilansir dari Science Alert, Minggu (31/12/2017) .

Perkawinan sedarah berefek pada kualitas sperma yang akan meningkatkan proporsi telur yang tidak dibuahi dari 10 persen menjadi 40 persen. Hal Ini, menurut Robertson, disebabkan oleh kurang beragamnya paparan genetik pada suatu populasi.

Padahal, keragaman genetik ini akan memungkinkan sebuah spesies untuk menghadapi tantangan di masa depan.

"Dengan memiliki pasangan yang komposisi kekebalannya yang berbeda, keturunan akan mendapatkan beragam imunitas tubuh yang berbeda pula," kata Dr Philip Stephens, peneliti dari Universitas Durham.

Lalu, berapa banyak variasi genetik yang dibutuhkan? Ini adalah perdebatan yang cukup alot sampai tahun 1980-an.

Baca juga: Pendataan KB Lebih Spesifik, Populasi Tinggi Memicu Masalah Lingkungan 

Pada awalnya, disebutkan bahwa sekitar 50-500 individu dibutuhkan untuk menghindari adanya perkawinan sedarah. Namun, kini aturan tersebut dinaikkan lagi menjadi 500-5.000 individu.

Jadi kembali pada pertanyaan semula, apa yang akan terjadi jika memang hanya tersisa sepasang manusia saja di bumi ini? Akankah seperti yang ditakutkan para ahli?

Stephens optimistis bahwa kehidupan akan kembali menemukan jalannya. Menurut dia, selama tidak menghancurkan peradaban modern, manusia bisa bangkit kembali dengan cepat.

"Bukti efek jangka pendek dari rendahnya keragaman genetik memang sangat kuat, tapi semua ini bersifat probabilistik. Jadi masih ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi," kata Stephens.


EditorGloria Setyvani Putri
Komentar
Close Ads X