Kompas.com - 24/12/2017, 14:04 WIB
Seekor tukik yang dilepasliarkan di Pantai Sukmade Banyuwangi KOMPAS.COM/Ira RachmawatiSeekor tukik yang dilepasliarkan di Pantai Sukmade Banyuwangi
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com –- Dalam waktu 24 setelah telurnya pecah, tukik, anak penyu, menggunakan cahaya laut yang minim untuk memandunya ke pantai. Namun, polusi cahaya saat malam justru membuat tukik bingung dan menghabiskan banyak waktu di darat.

Sialnya, hal ini tak berlangsung dalam hitungan menit. Para tukik yang kebingunan berputar-putar di daratan hingga berjam-jam, dan risiko ancaman yang datang dari predator dan dehidrasi pun menjadi lebih besar.

Berlandaskan fenomena itu, ahli biologi dari Florida Atlantic University, Karen Pankaew dan Sarah Milton, membuat penelitian untuk mengungkap seberapa lelah tukik untuk berenang setelah berputar-putar di daratan.

Hasil penelitian keduanya menjadi penting mengingat kondisi populasi penyu yang mengkhawatrikan. Dari tujuh spesies penyu yang berenang di lautan kita, semuanya menghadapi ancaman potensial, dan dua diantaranya masuk dalam ketegori terancam punah.

Baca juga : Makin Mengerikan, Tiap Tahun 1.000 Penyu Mati akibat Sampah Plastik

Untuk meneliti hal ini, Pankaew dan Milton mengumpulkan 150 tukik dari penyu tempayan liar dan sarang penyu hijau di Palm Beach County, Florida. Keduanya lalu menempatkan para tukik satu per satu di atas treadmill mini di laboratorium dengan cahaya buatan di bagian depan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tukik berjalan dengan kecepatan tetap sejauh 200 meter dalam suatu percobaan, dan 500 meter dalam percobaan lainnya. Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat. Jarak tersebut digunakan untuk mensimulasikan seberapa jauh jarak telur mereka dari laut.

Setelahnya, Pankaew dan Milton memakaikan perlengkapan renang yang dirancang khusus dan mencelupkan tukik dalam tangki berisi air. Sementara tukik berenang, Pankaew dan Milton mengamatinya selama dua jam.

Pankaew dan Milton juga mengukur tingkat oksigen di udara, tingkat pernafasan, dan kadar glukosa darah, serta indikator produksio laktat plasma (indikator penggunaan energi) untuk mengetahui seberapa lelah tukik. Mereka juga mencatat kayuhan lengan tukik di dalam tangki.

"Kami ingin melihat berapa banyak oksigen yang mereka gunakan karena itu adalah ukuran, pada dasarnya, daya tahan mereka," kata Milton seperti dilansir National Geographic pada Jumat (22/12/2017).

Baca juga : Kematian Penyu Dorong Ilmuwan Ini Ciptakan Mesin Penghancur Plastik

Hasilnya? Periode panjang eksperimen itu tak menghabiskan tenaga tukik terlalu banyak. Mereka masih punya cukup tenaga untuk mengarungi lautan selama dua jam.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.