Pakai Rumus Matematika Kompleks, Peneliti Ungkap Struktur Otak

Kompas.com - 22/12/2017, 17:34 WIB
otak biru otak biruotak biru
|
EditorGloria Setyvani Putri

KOMPAS.com - Otak manusia merupakan salah satu organ yang sering diteliti para ilmuwan. Misteri dan struktur organ yang rumit membuat peneliti semakin tertantang untuk mengungkapnya.

Baru-baru ini, sekelompok ahli mengungkapkan penemuan terbaru mereka yang menjelaskan tentang struktur otak secara lebih detail dan bagaimana organ otak bekerja.

Dikutip dari WIRED, Senin (12/6/2017), peneliti Blue Brain Project menggunakan komputer canggih dan rumus matematika rumit untuk mengungkap cara kerja dan bentuk otak sesungguhnya.

Ahli saraf Henry Markram dari EPFL di Lausanne, Swiss, yang juga direktur Blue Brain mengaku terkejut dengan penemuannya.

"Kami menemukan dunia yang tidak pernah kami bayangkan. Ada puluhan juta benda ini bahkan di setitik kecil otak, sampai tujuh dimensi. Di beberapa jaringan, kami bahkan menemukan struktur dengan sebelas dimensi," katanya.

Baca Juga: Kok Bisa Kecanduan Telepon Pintar Ganggu Keseimbangan Kimia Otak?

Struktur otak terbentuk ketika sekelompok neuron, sel yang mentransmisikan sinyal di otak, membentuk kelompok yang disebut klik. Setiap neuron terhubung ke setiap neuron lain dalam kelompok dengan cara tertentu, untuk membentuk objek baru. Semakin banyak neuron dalam klik, maka semakin tinggi 'dimensi' objek.

Penting untuk memahami struktur ini tidak dalam bentuk ruang tiga dimensi atau lebih.  Rumus matematika yang digunakan hanya untuk menggambarkan struktur berdimensi lebih dari tiga bahkan lebih.

"Di luar fisika, ruang berdimensi tinggi sering digunakan untuk menggambarkan struktur data atau kondisi sistem yang kompleks. Misalnya, keadaan sistem data di sebuah ruang negara," kata Profesor Cees van Leeuwen dari Katholieke Universiteit Leuven di Belgia dan juga salah satu penguji penelitian kepada WIRED.

Salah satu anggota tim peneliti, Ran Levi dari Universitas Aberdeen, menjelaskan, riset menggunakan benda yang memiliki jaringan kompleks seperti otak agar dapat memahami apa yang terjadi.

"Tanpa itu, yang Anda lihat hanyalah kekacauan 'pepohonan', yaitu neuron yang menembaki apa yang tampak sebagai pola acak," katanya.

Halaman:


Sumber Wired UK
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X