Lama Jadi Misteri, Tes DNA Ungkap Identitas Asli Manusia Salju "Yeti"

Kompas.com - 30/11/2017, 17:27 WIB
Potret jejak kaki ini disebut sebagai jejak kaki manusia salju yang dikenal dengan nama Yeti. Foto ini diambil saat ekspedisi gunung Everest, 1961. PopperfotoPotret jejak kaki ini disebut sebagai jejak kaki manusia salju yang dikenal dengan nama Yeti. Foto ini diambil saat ekspedisi gunung Everest, 1961.
|
EditorGloria Setyvani Putri


KOMPAS.com -- Manusia salju yang dikenal dengan nama Yeti masih melekat kuat dalam cerita rakyat Nepal, Bhutan dan Tibet.

Kisah penampakan makhluk ini pun sudah ada selama berabad-abad di pegunungan tinggi Asia. Menurut pengakuan orang-orang yang melihat penampakannya, Yeti digambarkan sebagai makhluk putih berbulu seperti kera dan jika berdiri, tingginya melebihi manusia.

Bayangan itu makin dibuat nyata dengan potret yang diambil seorang pendaki gunung dari Inggris, Eric Shipton, pada 1951. Sekembalinya dari ekspedisi Gunung Everest, Shipton membawa bukti foto jejak kaki raksasa yang tercetak di salju.

Legenda yang sudah turun temurun ini tampaknya membuat orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut menganggap Yeti benar-benar nyata. Mereka mengumpulkan rambut, tulang dan sampel lainnya yang diklaim sebagai bagian tubuh makhluk legendaris itu.

Siapakah Yeti sebenarnya?

Hingga kini memang belum ada bukti yang sahih soal keberadaan mahluk tersebut.

Ada teori berkembang yang menyatakan bahwa Yeti merupakan anggota dari keturunan manusia yang sudah punah seperti Neanderthal atau kera Gigantopithecus yang sudah punah. Bahkan, ada yang berkata bahwa Yeti adalah campuran antara manusia modern dan primata lainnya.

Baca Juga: Kisah Pria yang Mencari Yeti Selama 60 Tahun dan Menemukannya

Semua teori-teori itu terus berkembang hingga sebuah studi pada 2014 mengungkapkan bahwa bagian-bagian tubuh yang dianggap bagian tubuh Yeti ternyata berasal dari campuran antara beruang kutub dan beruang cokelat.

Charlotte Lindqvist, ahli biologi evolusioner di University of Buffalo New York meragukan keberadaan beruang campuran yang berkeliaran di pegunungan Himalaya.

Lindqvist dan rekan-rekannya memutuskan untuk menindaklanjuti studi tersebut dengan menganalisa contoh-contoh tambahan yang diakui sebagai bagian tubuh Yeti. Mereka berharap agar penelitian bisa memberikan titik terang apakah Yeti itu sebenarnya.

"Pemikiran saya adalah bahwa jika Yeti benar-benar beruang, penelitian ini bisa menjadi kesempatan menarik untuk mendapatkan sampel beruang Himalaya yang sulit didapat," kata Lindqvist seperti dikutip dari Live Science, Selasa, (28/11/2017).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X