Kompas.com - 22/11/2017, 20:05 WIB
Ilustrasi obat PIXABAYIlustrasi obat
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

SINGAPURA, KOMPAS.com -- Obat yang digunakan dalam pengobatan kanker semakin berkembang. Setiap tahun, para dokter yang hadir dalam acara perkumpulan seperti European Society for Medical Oncology (ESMO) Asia 2017, Suntec Convention Center, Singapura, Sabtu (19/11/2017), menyajikan temuan baru yang dapat memperbaiki kualitas hidup pasien.

Dr Sita Andarini, PhD, SpP(K) menuturkan, generasi pertama obat kanker targeted therapy untuk mutasi EGFR yang berperan dalam pertumbuhan sel kanker adalah gefitinib dan erlotinib. Generasi kedua obat kanker paru adalah afatinib.

Ketiga obat ini berbentuk tablet dan diindikasikan untuk lini pertama kanker paru jenis NSCLC dengan mutasi EGFR exon 19 atau 21.

Untungnya bagi penduduk Indonesia, ketiga obat itu ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosisal (BPJS) Kesehatan.

Baca juga : Mengenal Macam-macam Pengobatan untuk Kanker Paru

Sejak 2014, gefinib telah digratiskan di Indonesia, diikuti erlotinib pada tahun 2016 dan afatinib pada tahun 2017. Dengan demikian, pasien yang mengidap adenokarsinoma tidak perlu khawatir biaya berobat.

Sayangnya hanya segelintir rumah sakit yang dapat melakukan pemeriksaan ada tidaknya mutasi EGFR. Selain di Jakarta, pemeriksaan ini terdapat di Yogyakarta, Banjarmasin, Medan, dan Denpasar.

Osimertinib

Selain ketiga obat di atas, generasi ketiga obat kanker targeted therapy adalah osimertinib yang telah mendapat persetujan penggunaannya oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Oktober 2015 lalu. Obat ini dirancang untuk menghambat sensitisasi EGFR dan mutasi EGFR T790M.

Sita berkata bahwa pada penelitian AURA-3, pasien yang sudah tidak mempan menggunakan obat generasi pertama dan kedua, dan diketahui mutasi EGFR ekson 20 T790M, diberikan osimertinib atau kemoterapi

Hasilnya, PFS (progression-free survival atau waktu hidup pasien setelah mendapatkan pengobatan dan penyakitnya tidak memburuk) dengan osimertinib 10,1 bulan dibandingkan dengan kemoterapi sekitar 4.4 bulan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Dehidrasi pada Bayi, Ini Gejala dan Penyebabnya

Waspada Dehidrasi pada Bayi, Ini Gejala dan Penyebabnya

Kita
Mengenal Stroke Non Hemoragik, Jenis Stroke yang Paling Sering Terjadi

Mengenal Stroke Non Hemoragik, Jenis Stroke yang Paling Sering Terjadi

Kita
Gurita Selimut Betina Ternyata Berukuran Lebih Besar dari Gurita Jantan

Gurita Selimut Betina Ternyata Berukuran Lebih Besar dari Gurita Jantan

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Dunia, Apa yang Bisa Dilakukan?

Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Dunia, Apa yang Bisa Dilakukan?

Oh Begitu
Proses Seleksi Jadi Ratu Lebah Sungguh Brutal, Seperti Apa?

Proses Seleksi Jadi Ratu Lebah Sungguh Brutal, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Oh Begitu
Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Fenomena
Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.